04 March 2026

Get In Touch

Miliki 65 Hektare Lahan Cabai, Kota Malang Masih Datangkan Pasokan dari Luar Daerah

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meninjau pertanian cabai di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (4/3/2026). (Santi/Lentera)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meninjau pertanian cabai di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (4/3/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Meski memiliki total 65 hektare lahan pertanian cabai, Kota Malang masih mengambil pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kondisi ini terjadi karena masa tanam dan panen di tiap lahan tidak berlangsung serentak, sehingga produksi tidak bisa dihitung berdasarkan luas lahan semata.

"Kami, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) sudah melaksanakan High Level Meeting (HLM) untuk mendiskusikan kondisi harga dan ketersediaan bahan pokok. Setelah mengantongi data, sekarang kami melihat langsung kondisi di lapangan, terutama di hulunya," ujar Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat ditemui usai meninjau pertanian cabai dan peternakan ayam di Lesanpuro, Kedungkandang, Rabu (4/3/2026).

Disebutkannya, Kota Malang memiliki hamparan lahan cabai seluas 40 hektare di wilayah Kedungkandang dan 25 hektare di Merjosari, Lowokwaru. Dengan luasan tersebut, secara potensi produksi dinilai cukup besar.

"Sebetulnya dengan potensi yang dimiliki Kota Malang, tidak perlu sulit-sulit untuk mendapatkan stok cabai. Tetapi kami tetap perlu melihat kondisi di hilir, di pasar-pasar. Dari situ akan terlihat apakah TPID perlu melakukan intervensi agar harga tetap stabil," katanya.

Menurut Wahyu, menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, harga cabai dan daging ayam mulai merangkak naik seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, lanjutnya, berupaya menjaga keseimbangan agar harga tidak memberatkan konsumen tanpa merugikan petani.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan menjelaskan produksi cabai tidak bisa dihitung secara akumulatif berdasarkan total luas lahan.

"Setiap lahan memiliki masa tanam dan masa panen yang berbeda-beda. Di Poktan Lesanpuro misalnya, sudah dua kali panen dan bisa sampai belasan bahkan puluhan kali panen. Tapi di lahan lain belum tentu sudah panen," jelasnya.

Wahyu mencontohkan, pada panen kedua di lahan Poktan Lesanpuro dengan 4.500 pohon cabai, hasilnya sekitar 80 kilogram. Sementara pada puncak panen, yakni panen ke-12 hingga ke-14, produksi bisa mencapai 3 kuintal per lahan tersebut.

"Jadi tidak bisa langsung ditotal 40 hektare ditambah 25 hektare lalu dianggap pasti mencukupi kebutuhan kota. Produksi sangat tergantung pada fase panen masing-masing lahan," tegasnya.

Secara akumulatif, Slamet menyebut potensi produksi cabai Kota Malang dalam satu tahun bisa mencapai 3.000 hingga 4.000 ton, jika dihitung dari seluruh siklus panen, mulai panen pertama hingga panen ke-30.

Meski demikian, untuk menjaga stabilitas stok dan harga cabai di pasar, Kota Malang masih menjalin kerja sama pasokan dengan daerah lain. "Biasanya teman-teman di Diskopindag yang melaksanakan kerja sama antar daerah, seperti dari Lumajang, Banyuwangi, hingga Bali," ujar Slamet.

Selain cabai, Pemkot Malang juga memantau komoditas lain seperti telur dan daging ayam. Untuk telur ayam kampung, harga saat ini berada di kisaran Rp29 ribu. Di Kota Malang, peternak ayam petelur terkonsentrasi di wilayah Wonokoyo dengan total sembilan kandang, dengan kapasitas bervariasi antara 2.500 hingga 9.000 ekor per kandang.

Sementara untuk ayam potong, tercatat hanya terdapat lima lokasi peternakan di Kota Malang dengan populasi rata-rata 3.000 hingga 6.000 ekor per lokasi. Produksi komoditas tersebut juga bergantung pada kapasitas masing-masing kandang.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.