MALANG (Lentera) - Memasuki masa libur sekolah dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengimbau para orang tua untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka. Pengawasan ini dinilai penting agar aktivitas siswa selama libur panjang tetap positif dan tidak mengganggu ketertiban di lingkungan masyarakat.
"Harapan kami, boleh bersuka cita merayakan hari kemenangan. Namun demikian harus ingat, kita ini ada di tengah masyarakat yang melihat dan menyoroti. Kami meminta orang tua untuk benar-benar mengawasi anak-anaknya,” ujar Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, Senin (16/3/2026).
Diketahui, seluruh satuan pendidikan di Kota Malang mulai memasuki masa libur Lebaran sejak Senin (16/3/2026) ini. Libur panjang bagi para siswa tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 29 Maret 2026 mendatang.
Menurut Suwarjana, selama masa libur sekolah, kendali pengawasan aktivitas anak sepenuhnya berada di tangan keluarga. Hal tersebut menjadi penting agar kegiatan para siswa di luar rumah tetap terarah dan tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar.
Ia menilai, tanpa pengawasan yang baik, terdapat potensi aktivitas yang kurang produktif selama libur panjang. Misalnya bermain petasan atau mercon yang berisiko membahayakan keselamatan, hingga penggunaan gawai dan permainan gim secara berlebihan.
"Karena konteksnya sudah di luar jangkauan kami sebagai pihak sekolah, maka kami mengajak semua pihak untuk saling mengawasi. Terutama peran orang tua di rumah," katanya.
Selain memberikan imbauan kepada para orang tua, Suwarjana juga menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah, guru, serta tenaga pendidik untuk memastikan keamanan fasilitas pendidikan selama masa libur berlangsung.
Menurutnya, pengamanan sarana dan prasarana sekolah perlu diperketat. Mengingat sebagian besar gedung sekolah akan kosong selama periode libur Lebaran.
Di sisi lain, ia menyampaikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang juga turut dihentikan sementara selama masa libur sekolah berlangsung.
Suwarjana menjelaskan, penghentian sementara tersebut dilakukan karena sebagian besar siswa tidak berada di sekolah maupun di rumah saat momentum Lebaran, sehingga distribusi makanan dinilai tidak akan efektif.
"MBG juga pasti libur. Apalagi libur hari raya ini kan jarang orang ada di rumah, kalau dikirim ke rumah pun nanti malah sia-sia," katanya.
Suwarjana berharap setelah masa libur panjang berakhir, kualitas program MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke sekolah-sekolah dapat semakin ditingkatkan.
Hal ini menyusul adanya sejumlah laporan dan masukan yang diterimanya, terkait kualitas kandungan gizi pada paket makanan yang dibagikan kepada siswa.
"Saya harap teman-teman pelaksana SPPG nanti semakin hati-hati dan menyesuaikan dengan aturan serta standar nilai gizi yang sudah ditetapkan," tutupnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi





