SURABAYA (Lentera)- Menjelang Hari Raya Idulfitri, pola konsumsi masyarakat cenderung berubah dengan meningkatnya konsumsi makanan bersantan, tinggi gula, dan berlemak yang berpotensi memicu gangguan pencernaan. Melihat fenomena tersebut, lima mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya menghadirkan inovasi pangan fungsional bernama GO! MAJA, minuman probiotik berbasis Greek yoghurt yang dipadukan dengan ekstrak buah maja (Aegle marmelos).
Produk ini dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas disiplin ilmu, yaitu Ardan Rezon Prasetio dari Program Business Management, Audrey Hadara Wattimena dari Desain Komunikasi Visual, Aurelia Callysta dari Branding and Digital Marketing, Fedilia Yanson Widio dari Culinary Business Management, serta Samuel Jason Liwanto Lie dari Branding and Digital Marketing.
Ketua tim GO! MAJA, Ardan Rezon Prasetio, menjelaskan inovasi tersebut lahir dari keinginan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap buah maja yang selama ini kurang dimanfaatkan.
“Kami ingin membuktikan bahwa buah maja yang sering terabaikan sebenarnya merupakan ‘harta karun’ kesehatan. Kandungan lektin dan quercetin di dalamnya berpotensi melindungi dinding lambung, sehingga sangat bermanfaat ketika pola makan berubah drastis seperti saat perayaan Idulfitri,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Berbeda dengan yoghurt komersial yang umumnya menggunakan rasa buah populer, GO! MAJA justru mengangkat karakteristik unik dari buah maja. Meski dikenal memiliki rasa pahit, tim ini berhasil mengolahnya menjadi produk minuman probiotik yang tetap nyaman dikonsumsi.
Pengembangan produk ini dilakukan di bawah bimbingan David Kristanto, S.E., M.M., dosen School of Business and Management UK Petra. Menurut David, inovasi tersebut menjadi bukti bahwa keanekaragaman hayati lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai kesehatan dan ekonomi tinggi.
“Keunggulan GO! MAJA terletak pada formulasinya. Greek yoghurt dipadukan dengan sirup dan jelly dari sari buah maja murni. Produk ini juga telah melalui pengujian laboratorium yang merujuk pada berbagai jurnal kesehatan terpublikasi,” jelasnya.
Secara ilmiah, sari buah maja diketahui memiliki potensi meningkatkan imunitas, menangkal radikal bebas, serta berperan dalam menjaga kesehatan jantung dan sistem pencernaan.
Salah satu tantangan utama dalam pengolahan buah maja adalah rasa pahit yang muncul sebagai after-taste. Untuk mengatasinya, tim GO! MAJA mengembangkan teknik fermentasi khusus selama tiga hari yang mampu mengurangi rasa pahit secara signifikan.
Proses ini tidak hanya menghilangkan stigma buah maja sebagai buah pahit, tetapi juga menghasilkan profil rasa yang khas dan segar.
Produk GO! MAJA mengusung tagline “Start Your Healthy Move” dan membutuhkan waktu produksi sekitar empat hari hingga siap dikonsumsi. Inovasi ini sekaligus menjadi upaya pelestarian bahan pangan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Meski baru diluncurkan di lingkungan kampus UK Petra, minuman probiotik ini telah mendapat respons positif. Sebanyak 120 pouch berhasil terjual kepada mahasiswa dan civitas akademika.
GO! MAJA dipasarkan dengan harga Rp5.000 per kemasan berisi 50 ml. Awalnya produk ini disiapkan untuk mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada April 2026. Namun melihat antusiasme pasar, tim pengembang optimistis untuk melanjutkan usaha ini secara komersial.
“Melalui pengembangan yoghurt buah maja ini, kami berharap dapat menghadirkan produk inovatif berbasis fermentasi yang memanfaatkan bahan pangan lokal. Selain memberikan manfaat gizi dan probiotik, inovasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi buah maja yang selama ini kurang dimanfaatkan,” pungkas David. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi





