01 April 2026

Get In Touch

Bolehkah Berlari Setiap Hari? Ini Penjelasannya Menurut Ahli

Bolehkah Berlari Setiap Hari? Ini Penjelasannya Menurut Ahli

SURABAYA ( LENTERA ) - Berlari setiap hari sering dipandang sebagai bentuk konsistensi dan komitmen dalam menjaga kebugaran. Namun, kebiasaan ini tidak selalu bisa dianggap sepenuhnya baik atau buruk bagi kesehatan. Pelatih lari, Anoush Arakelian, menjelaskan bahwa manfaat maupun risikonya sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing orang serta cara mereka menjalani latihan.

Menurut Arakelian, pertanyaan mengenai apakah berlari setiap hari baik untuk kesehatan tidak dapat dijawab secara sederhana. Ia menilai bahwa setiap individu memiliki kapasitas fisik, pengalaman, serta kebutuhan latihan yang berbeda. Oleh karena itu, penilaian terhadap kebiasaan tersebut harus melihat banyak faktor, bukan sekadar frekuensi berlari.

Arakelian mengatakan bahwa berlari setiap hari sebenarnya bisa dilakukan, selama intensitas latihan tidak selalu tinggi. Dalam program latihan yang baik, beberapa sesi lari seharusnya difungsikan sebagai active recovery, yaitu lari ringan dengan tempo santai yang membantu tubuh tetap aktif tanpa memberikan tekanan berlebihan pada otot maupun sendi. Namun dalam praktiknya, banyak pelari justru kesulitan menurunkan tempo saat hari latihan ringan. Secara mental, sebagian orang cenderung tetap berlari cepat atau menempuh jarak jauh, sehingga tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Pengalaman juga berperan besar dalam menentukan pola latihan. Arakelian menyebut kemampuan mengatur intensitas ini sebagai bentuk “kedewasaan pelari” (runner maturity). Pelari yang lebih berpengalaman biasanya tidak terlalu terpaku pada kecepatan atau jarak tempuh. Mereka mampu menikmati lari santai pada hari latihan ringan, sehingga tubuh tetap memiliki waktu untuk pulih meskipun frekuensi latihan cukup sering.

Meskipun ada orang yang mampu berlari setiap hari, Arakelian menegaskan bahwa hari istirahat tetap penting. Kebutuhan istirahat setiap pelari dapat berbeda, tergantung pada riwayat cedera, total jarak lari dalam satu minggu, serta intensitas latihan yang dijalani. Bahkan beberapa pelari berpengalaman tetap membutuhkan dua hari istirahat setiap minggu agar tubuh tidak mudah mengalami cedera.

Hal yang paling penting menurut Arakelian adalah memperhatikan respons tubuh terhadap latihan. Jika seseorang merasa kelelahan terus-menerus, kesulitan menyelesaikan sesi latihan, atau mulai kehilangan motivasi untuk berlari, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan waktu pemulihan. Selain itu, rasa nyeri juga tidak boleh diabaikan. Berlari setiap hari tanpa pengaturan yang tepat dapat meningkatkan risiko cedera, seperti cedera stres pada tulang, gangguan tendon, serta kelelahan berkepanjangan akibat kurangnya waktu istirahat.

Tren running streak meruoakan kebiasaan berlari setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun memang cukup populer di kalangan pelari. Namun Arakelian menilai kebiasaan tersebut tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Menurutnya, tujuan latihan seharusnya lebih menekankan pada kualitas latihan, pemulihan yang cukup, serta keseimbangan antara latihan intens dan hari istirahat. Dengan pendekatan tersebut, pelari dapat menjaga performa sekaligus mengurangi risiko cedera dalam jangka panjang. (Inna – Mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)


 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.