10 April 2026

Get In Touch

Harga Kedelai Melejit, Produsen Tahu Tempe Mengadu ke Presiden

Ilustrasi:Produksi tempe di sentra industri tempe Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi:Produksi tempe di sentra industri tempe Kota Malang. (Santi/Lentera)

JAKARTA (Lentera) - Harga kedelai yang melejit membuat produsen tahu dan tempe mengambil langkah serius dengan mengadu langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Apabila harga kedelai melebihi batas tersebut, maka akan sangat memberatkan kami, bahkan dapat mengancam keberlanjutan usaha kami dan mata pencaharian kami sebagai para pelaku usaha kecil di sektor ini," ujar Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Tri Harjono dalam surat yang diterima Bloomberg, dikutip Kamis (9/4/2026).

Berdasarkan data internal Gakoptindo, harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan signifikan. Dari sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram, kini harga kedelai telah menembus di atas Rp11.000 per kilogram.

Tri mengungkapkan, batas kemampuan maksimal pengrajin dalam membeli kedelai sangat terbatas. Untuk wilayah Pulau Jawa, harga ideal berada di kisaran Rp9.500 per kilogram, sementara di luar Pulau Jawa berkisar Rp10.000 per kilogram.

Ditambahkannya, Gakoptindo saat ini memiliki jaringan anggota yang tersebar di 27 provinsi dan 217 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Secara nasional, kebutuhan kedelai untuk industri tahu tempe diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.

Selain kedelai, Gakoptindo juga menyoroti lonjakan harga plastik yang digunakan sebagai bahan kemasan. Kenaikan ini disebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku dari Timur Tengah.

Wakil Ketua Gakoptindo, Hedy Kusnoto, menyebutkan kenaikan harga plastik bahkan dirasakan lebih signifikan dibandingkan kedelai, sehingga semakin menekan margin keuntungan pengrajin.

"Itu yang sangat signifikan sekali kenaikan di plastik. Tanpa pemerintah menaikkan harga BBM, harga plastik sudah melonjak," kata Hedy.

Kondisi tersebut memaksa para pelaku usaha untuk melakukan berbagai strategi agar tetap bertahan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menyesuaikan ukuran atau isi produk, mengingat kenaikan harga jual dinilai sulit dilakukan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

"Naikkan harga tempe tidak mungkin. Paling disiasati dengan pengurangan isi atau ukuran potongan," ujarnya.

Editor:Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.