MALANG (Lentera) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengantisipasi potensi musim kemarau yang lebih panjang, di wilayah Malang Raya imbas fenomena El Nino.
Saat ini monitoring intensif terus dilakukan menyusul indikasi kemunculan El Nino pada pertengahan tahun, yang berpotensi menekan curah hujan dan memperpanjang durasi kemarau di wilayah tersebut.
"BMKG merilis saat ini akan ada kemunculan El Nino di pertengahan tahun dengan intensitas lemah. Tetapi nanti akan diupdate apakah intensitas El Nino yang lemah ini akan meningkat menjadi moderat atau kuat," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, Jumat (10/9/2026).
Sebelumnya, BMKG telah memprediksi awal musim kemarau di wilayah Malang Raya, akan dimulai pada dasarian I Mei 2026.
Anung menjelaskan, apabila intensitas El Nino meningkat menjadi moderat atau bahkan kuat, maka dampaknya bisa signifikan terhadap pola iklim. Salah satunya adalah musim kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang dari biasanya.
"Kalau meningkat menjadi moderat atau kuat, dampaknya musim kemarau di 2026 akan lebih panjang. Bahkan awal musim hujan bisa saja mundur hingga ada daerah yang baru masuk musim hujan di tahun 2027," jelasnya.
Mengantisipasi kemungkinan tersebut, Anung mengatakan pihaknya bersama pemerintah daerah mulai menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Koordinasi telah dilakukan mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk menghadapi potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dijelaskannya, BMKG bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memetakan titik-titik panas yang perlu diantisipasi. Beberapa langkah yang disiapkan antara lain pembangunan sumur bor hingga skenario water bombing jika terjadi karhutla.
Selain itu, BMKG juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi ketersediaan air, khususnya di sejumlah bendungan strategis seperti Bendungan Sutami atau Karangkates.
"Kalau tinggi muka air waduk tidak sesuai pola, sementara masih ada potensi awan, maka bisa dilakukan penyemaian awan agar hujan turun. Artinya panen air hujan dimaksimalkan," terangnya.
Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga pasokan air, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian. Dengan optimalisasi cadangan air sejak dini, kata Anung, dampak kemarau diharapkan tidak terlalu membebani distribusi air.
Di sisi lain, Anung menegaskan informasi prakiraan musim dari BMKG sejatinya telah terintegrasi dalam perencanaan sektor pertanian. Kalender tanam yang disusun sebelumnya telah mempertimbangkan proyeksi iklim tahunan.
Dalam skenario tersebut, pola musim tanam (MT) telah diatur, mulai dari padi-padi-padi hingga padi-palawija, bergantung pada ketersediaan air dan kondisi iklim. Namun, rencana tersebut bersifat fleksibel dan dapat berubah jika terjadi anomali iklim.
"Kalau terjadi penyimpangan iklim yang cukup ekstrem, seperti El Nino yang semakin kuat, maka alokasi air tidak sesuai skenario. Sehingga rencana tata tanam harus diubah, misalnya dari padi menjadi palawija," katanya.
Anung memastikan, kebijakan adaptif tersebut telah berjalan dengan baik dan menjadi bagian dari upaya mitigasi risiko iklim. Dengan pemantauan yang terus diperbarui, diharapkan sektor pertanian tetap dapat beradaptasi menghadapi perubahan musim.
Reporter:Santi Wahyu/Editor: Ais




