SURABAYA (Lentera) - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini terhimpit lonjakan harga plastik yang mencapai 80 persen sejak awal 2026. Kenaikan harga bahan baku kemasan tersebut dinilai menekan biaya produksi, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (Unair), Atik Purmiyati menilai, di tengah tekanan yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah tersebut, inovasi menjadi kunci utama bagi pelaku UMKM untuk tetap bertahan.
"UMKM sektor makanan dan minuman paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada kemasan plastik. Kenaikan harga ini otomatis menambah biaya produksi dan menekan margin usaha," ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, tekanan tersebut semakin berat karena sebagian besar UMKM memiliki keterbatasan modal dan sumber daya manusia untuk beradaptasi cepat terhadap lonjakan harga bahan baku.
Lebih lanjut, Atik menekankan inovasi menjadi kunci utama agar UMKM tetap bertahan. Sejumlah strategi dapat dilakukan, mulai dari mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga, memperluas pasar, hingga beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Alternatif kemasan seperti bahan biodegradable berbasis pati jagung, tebu, singkong (cassava bag), hingga serat nanas dinilai bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun, penggunaan kemasan ramah lingkungan di kalangan UMKM masih belum masif.
"Diperlukan edukasi besar-besaran agar pelaku usaha dan konsumen sama-sama terbiasa menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan," jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan perilaku konsumen juga memiliki peran penting. Masyarakat didorong untuk menggunakan tas belanja ulang pakai, membawa wadah sendiri, serta menerapkan sistem isi ulang (refill).
Dalam perspektif ekonomi perilaku, perubahan kebiasaan ini dapat memengaruhi permintaan pasar dan mendorong produsen beradaptasi.
Selain itu, Atik menyarankan pelaku UMKM melakukan pembelian bahan kemasan secara kolektif agar memperoleh harga lebih murah melalui skema economies of scale.
Dari sisi kebijakan, pemerintah diharapkan berperan aktif sebagai regulator pasar dengan menjaga stabilitas harga bahan baku plastik. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengawasan distribusi, pengendalian spekulasi harga, serta pemberian insentif bagi industri hulu agar pasokan tetap terjaga.
"Program stabilisasi harga juga perlu diiringi pendampingan inovasi bagi UMKM agar daya beli masyarakat tetap terjaga," tegasnya.
Ia mengingatkan, UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data Sistem Informasi Data Terpadu Koperasi dan UMKM (SIDT-UMKM), sektor ini berkontribusi sekitar 60-61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja.
"Namun, tidak semua UMKM memiliki daya tahan yang sama dalam menghadapi gejolak global. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk mendorong inovasi agar UMKM tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor:Santi




