10 April 2026

Get In Touch

Rupiah Melemah ke Rp17.104 per Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi Amerika

Ilustrasi:seorang karyawan di perusahaan layanan penukaran uang membawa pecahan uang Rp100 ribu dan Rp50 ribu. (REUTERS)
Ilustrasi:seorang karyawan di perusahaan layanan penukaran uang membawa pecahan uang Rp100 ribu dan Rp50 ribu. (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.104 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (10/4/2026), seiring sikap pelaku pasar yang cenderung menahan transaksi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Hal tersebut dinilai akan memengaruhi arah kebijakan moneter global.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.104 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.090 per dolar AS.

"Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat," ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa di Jakarta, melansir ANTARA, Jumat (10/4/2026).

Ditambahkannya, data CPI AS diperkirakan menunjukkan kenaikan, yang berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama oleh bank sentral AS.

Tidak hanya faktor ekonomi, sentimen geopolitik juga turut membayangi pergerakan rupiah. Ketegangan di kawasan Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven, yang umumnya menguntungkan dolar AS.

"Faktor geopolitik ini meningkatkan preferensi investor terhadap aset yang lebih aman, sehingga memberikan tekanan tambahan pada mata uang emerging markets," jelasnya.

Di sisi domestik, peran Bank Indonesia (BI) menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang masih kuat. Intervensi aktif dilakukan untuk meredam volatilitas yang berlebihan di pasar keuangan.

Amru menyebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah tetap menjadi prioritas utama. Langkah yang ditempuh meliputi intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Selain itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, menurut Amru, juga menegaskan komitmen bank sentral dalam menjaga kestabilan rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar domestik maupun offshore.

"Bank Indonesia secara konsisten berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar, baik melalui intervensi langsung maupun instrumen lainnya," kata Amru.

Sejalan dengan pergerakan tersebut, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga melemah ke level Rp17.112 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.082 per dolar AS.

Editor:Santi,ist

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.