SURABAYA ( LENTERA ) - Tradisi menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi seolah sudah menjadi hukum tak tertulis bagi para orang tua di Indonesia. Keyakinan bahwa paparan surya adalah kunci pembentukan vitamin D demi tulang yang kuat telah diwariskan lintas generasi. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kini memberikan catatan kritis, praktik menjemur bayi baru lahir secara langsung justru menyimpan risiko yang lebih besar daripada manfaatnya.
Menurut penjelasan resmi IDAI, efektivitas sinar matahari dalam membantu sintesis vitamin D pada bayi sangat bergantung pada banyak variabel yang sulit dikontrol orang tua secara mandiri.
Faktor-faktor seperti waktu berjemur, durasi, kondisi cuaca, hingga luas permukaan kulit yang terpapar sangat menentukan hasilnya. Bahkan, warna kulit dan lokasi geografis pun turut berpengaruh. Ketidakpastian inilah yang membuat praktik jemur bayi sering kali tidak efektif mencapai target kecukupan vitamin D.
Lebih dari sekadar persoalan efektivitas, aspek keamanan kulit menjadi perhatian utama. Kulit bayi baru lahir memiliki struktur yang sangat tipis dan sensitif. Paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan di usia dini dapat merusak jaringan kulit dan secara signifikan meningkatkan risiko kanker kulit di masa depan. Oleh karena itu, IDAI merekomendasikan agar bayi di bawah usia enam bulan tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
Sebagai langkah preventif, perlindungan fisik menjadi garda terdepan. Orang tua disarankan memakaikan baju lengan panjang dan topi saat bayi berada di luar ruangan. Penggunaan tabir surya atau sunscreen juga mulai diperhitungkan dengan syarat ketat. Untuk bayi di bawah enam bulan, sunscreen hanya boleh digunakan pada area kecil seperti wajah jika benar-benar diperlukan.
Sementara untuk bayi di atas enam bulan, penggunaan sunscreen dengan SPF 15 hingga 50 yang mengandung titanium dioxide atau zinc oxide lebih dianjurkan karena cenderung aman bagi kulit sensitif.
Lantas, bagaimana dengan kebutuhan vitamin D yang esensial bagi tumbuh kembang? IDAI menegaskan bahwa asupan vitamin D sebaiknya tidak lagi digantungkan pada aktivitas berjemur. Suplementasi rutin menjadi solusi yang lebih terukur dan aman.
Bayi berusia di bawah 12 bulan direkomendasikan mendapat asupan vitamin D sebanyak 400 IU per hari, sementara anak di atas satu tahun membutuhkan 600 IU per hari. Anjuran ini tetap berlaku bagi bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif, mengingat kandungan vitamin D dalam air susu ibu sering kali belum mencukupi kebutuhan harian tanpa bantuan suplemen tambahan.
Jika Bayi Kuning
Perawatan bayi kuning tidak dengan menjemur, melainkan melalui pemeriksaan medis. Dokter akan menilai kadar bilirubin dan menentukan penanganan yang tepat, seperti observasi kondisi bayi, pemberian ASI yang cukup, atau fototerapi (penanganan dengan cahaya khusus di rumah sakit) jika diperlukan.
Lebih baik konsultasikan kesehatan bayi ke tenaga medis, terutama jika bayi tampak kuning, agar mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.
(Natasya- Mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)




