SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Nelson Rachel Rafael, berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) Batch 21 yang digelar di Singapura dan Malaysia, pada 7-10 April 2026.
Di balik prestasi tersebut, tersimpan gagasan besar yang lahir dari kepedulian terhadap potensi lokal. Nelson mengangkat realitas UMKM di kawasan pesisir Pantai Kenjeran, Surabaya, yang dinilainya memiliki peluang besar menembus pasar global, namun masih terkendala akses dan sistem pendukung.
Melalui inovasi platform digital bernama MarExa (Maritime Export Accelerator), Nelson bersama timnya menghadirkan solusi terintegrasi untuk mendorong UMKM pesisir naik kelas.
"Kami melihat MarExa sebagai solusi konkret. Platform ini menawarkan empat fitur utama, mulai dari MasterClass untuk edukasi, Retail Partner untuk jaringan bahan baku, Global Revenue untuk integrasi ekspor, hingga Revenue Streams untuk pengelolaan keuangan," jelas Nelson, Jumat (17/4/2026).
Dalam kompetisi internasional tersebut, Nelson tidak hanya tampil sebagai delegasi fully funded, tetapi juga sukses menyabet predikat 1st Best Project Innovation, 1st Best Presentation, serta penghargaan individu sebagai Most Innovative Delegate.
Prestasi ini diraihnya setelah melewati proses seleksi ketat, mulai dari tahap administrasi, tes wawasan kebangsaan, hingga Focus Group Discussion (FGD), dengan peserta dari berbagai negara.
Sebagai mahasiswa akuntansi, ia berperan penting dalam merancang sistem Revenue Streams yang menitikberatkan pada transparansi dan akuntabilitas keuangan. Sistem ini memungkinkan pelaku UMKM memantau arus pendapatan dan modal secara real-time.
"Saya ingin pelaku usaha tidak hanya berkembang, tetapi juga memiliki sistem keuangan yang kuat dan berkelanjutan," tambahnya.
Perjalanan Nelson tidak selalu mulus. Ia harus memimpin tim lintas usia secara daring, sekaligus menghadapi tantangan komunikasi saat sesi penjurian menggunakan bahasa Melayu. Namun, dengan persiapan matang dan strategi komunikasi yang tepat, ia mampu menjadikan tantangan tersebut sebagai kekuatan.
"Kunci kami adalah latihan rutin, membangun storytelling yang kuat, serta menyiapkan pembuka dan penutup yang mampu menarik perhatian juri," ungkapnya.
Pengalaman internasional ini semakin diperkaya dengan kunjungan ke kampus-kampus terbaik ASEAN seperti National University of Singapore (NUS) dan Universiti Malaya (UM). Dari sana, Nelson melihat langsung bagaimana budaya kompetitif dan inovatif tumbuh di kalangan mahasiswa global.
Ia pun mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa Unair, untuk berani melangkah lebih jauh. "Jangan takut keluar dari zona nyaman. Percaya pada potensi diri dan terus cari peluang internasional. Karena kesempatan tidak selalu datang dua kali," pesannya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi




