25 April 2026

Get In Touch

Starbucks AS Kembali Terseret Rumor PHK, Divisi Teknologi Jadi Sasaran

Salah satu gerai Starbucks di Amerika Serikat. (REUTERS)
Salah satu gerai Starbucks di Amerika Serikat. (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Starbucks di Amerika Serikat (AS) kembali terseret rumor pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kali ini menyasar divisi teknologi.

Meski demikian, hingga saat ini Starbucks belum memberikan konfirmasi resmi terkait PHK tersebut.

Berdasarkan laporan dari The Seattle Times, rencana pengurangan tenaga kerja di divisi teknologi ini sejatinya sudah lama menjadi pembahasan internal. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi.

Dalam pernyataannya kepada karyawan, manajemen Starbucks menyebut perubahan ini sebagai langkah strategis perusahaan. "Kami melakukan perubahan struktural untuk bergerak lebih cepat, mempertajam fokus, dan memastikan kami siap untuk mewujudkan prioritas terpenting kami," tulis manajemen Starbucks, melansir Detik, Sabtu (25/4/2026).

Pengumuman PHK itu disebut dilakukan secara terpisah dari kebijakan relokasi karyawan divisi teknologi Starbucks di Seattle ke Nashville. Kantor baru di Nashville itu nantinya diproyeksikan menampung sekitar 2.000 pekerja.

Langkah restrukturisasi ini terjadi di tengah perubahan kepemimpinan dan strategi besar perusahaan. Starbucks diketahui tengah berada dalam fase transformasi di bawah CEO Brian Niccol, yang mendorong efisiensi sekaligus inovasi digital di tubuh perusahaan.

Salah satu fokus utama Starbucks saat ini adalah penguatan teknologi. Hal itu juga ditandai dengan penunjukan Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer (CTO) pada Desember lalu. Ia sebelumnya memiliki pengalaman panjang di Amazon selama kurang lebih 19 tahun.

Menurut laporan jurnal perdagangan IT ETCIO, perekrutan Varadarajan dipandang sebagai sinyal kuat Starbucks ingin mempercepat pertumbuhan teknologi, termasuk pengembangan sistem digital dan operasional berbasis data.

Namun di sisi lain, ambisi transformasi tersebut dibarengi dengan langkah efisiensi yang cukup agresif. Sejak 2024, Starbucks tercatat menghadapi tekanan berupa penurunan penjualan, laba, serta tantangan operasional di sejumlah gerai.

Tahun 2025, Starbucks telah menutup ratusan gerai di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk lebih dari 30 lokasi di Washington.

Selain penutupan gerai, perusahaan juga melakukan PHK di berbagai lini. Hampir 1.000 pekerja ritel dan non-ritel di Seattle dan Kent telah diberhentikan. Bahkan, gelombang PHK lanjutan sebanyak sekitar 1.100 karyawan juga diperkirakan menyusul.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.