SURABAYA ( LENTERA ) - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama tim Herbarium Bandungense dan Institut Teknologi Bandung berhasil mengungkap tiga spesies baru tumbuhan aroid genus Homalomena dari Sumatra.
Ketiga spesies tersebut memiliki nama ilmiah masing-masing diantaranya, Homalomena pachyderma A.S.D. Irsyam & M.R. Hariri, Homalomena pulopadangensis A.S.D. Irsyam & M.R. Hariri, dan Homalomena uncinata A.S.D. Irsyam & M.R. Hariri.
Hasil riset ini telah diterbitkan dalam jurnal internasional Telopea edisi Volume 30 tahun 2026. Studi tersebut digarap oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Muhammad Rifqi Hariri, bersama Arifin Surya Dwipa Irsyam.
Yang menarik, penemuan tiga spesies ini tidak berawal dari kegiatan eksplorasi di alam, melainkan dari tren perdagangan tanaman hias yang viral di media sosial. Dari fenomena tersebut, para peneliti kemudian melakukan penelusuran ilmiah lebih lanjut.
Dalam laporan ilmiahnya, disebutkan bahwa foto dan unggahan tanaman oleh kolektor serta pehobi memperlihatkan ciri morfologi yang ganjil dan belum pernah tercatat sebelumnya.
Keunikan tersebut mendorong dilakukan kajian taksonomi secara mendalam melalui analisis morfologi. Setelah diteliti lebih lanjut, ketiga tanaman itu dipastikan sebagai spesies baru yang belum dikenal dalam dunia sains.
Menurut Muhammad Rifqi Hariri, kejadian ini menjadi bukti bahwa media sosial kini dapat berperan penting dalam membuka peluang baru bagi penemuan keanekaragaman hayati.
"Platform digital kini menjadi salah satu pintu masuk awal untuk mengenali potensi spesies baru, terutama dari tanaman hias yang beredar di kalangan kolektor," ujar Rifqi, melansir keterangan resmi BRIN, Senin (13/4).
Tiga spesies yang ditemukan memperlihatkan keunikan morfologi yang jelas membedakannya dari jenis Homalomena lain di Sumatra. Homalomena pachyderma memiliki ciri daun yang tebal dengan permukaan atas bertekstur kasar (papila).
Berbeda dengan itu, Homalomena pulopadangensis ditandai oleh bentuk daun yang lebih ramping, genicula yang lebih tebal, serta staminodia yang menyerupai gada.
Sementara Homalomena uncinata memiliki karakter khas berupa rambut berbentuk kait pada permukaan atas daunnya. Perbedaan morfologi yang mencolok ini menjadi dasar kuat dalam penetapan ketiganya sebagai spesies baru.
Penelitian juga menunjukkan bahwa ketiga spesies ini berasal dari Sumatra Utara dan kemungkinan memiliki wilayah sebaran yang sempit, sehingga berpotensi sebagai spesies endemik.
Menariknya, mayoritas sampel yang dianalisis merupakan tanaman hasil budidaya. Tanaman tersebut awalnya diambil dari habitat alaminya, lalu dirawat di pembibitan sebelum akhirnya diteliti lebih lanjut secara ilmiah.
Menariknya, salah satu spesies, Homalomena uncinata, diketahui telah beredar hingga ke Jepang sejak sekitar sembilan tahun lalu. Meski demikian, jalur distribusi maupun legalitas asal-usulnya hingga kini belum dapat dipastikan.
Temuan ini menegaskan bahwa koleksi tanaman di pembibitan, serta aktivitas komunitas pehobi, memiliki peran penting dalam membuka tabir keanekaragaman hayati yang sebelumnya belum terdokumentasi. Selain itu, hasil riset ini semakin memperkuat posisi Sumatra sebagai salah satu pusat keanekaragaman genus Homalomena di kawasan Malesia.
Ke depan, tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional berkomitmen untuk melanjutkan studi taksonomi dan eksplorasi biodiversitas tumbuhan Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam inventarisasi, pelestarian, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan. (Itqiyah_mahasiswa UINSA yang berkontribusi dalam tulisan ini).




