PETAKA di gerbong khusus perempuan menjadi ironi pahit dalam tabrakan kereta di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB. Saat itu KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL Tokyo Metro rute Kampung Bandan–Cikarang, ruang selama ini dianggap aman bagi kaum hawa justru menjadi pusat duka. Data hingga Rabu (28/4/2026) mengungkapkan bila 15 korban tewas tercatat berjenis kelamin wanita dan mayoritas berada di gerbong tersebut. Tragedi ini memicu usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi agar posisi ruang khusus bagi perempuan dipindah ke tengah rangkaian demi keselamatan penumpang. Namun, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan fokus utama pemerintah adalah memastikan transportasi publik aman bagi semua, baik perempuan maupun laki-laki.Diketahui, gerbong wanita di Indonesia mulai diterapkan pada 1 Oktober 2012 di layanan KRL Jabodetabek. Kebijakan ini lahir dari tingginya kepadatan penumpang, risiko pelecehan seksual, dan kebutuhan rasa aman bagi perempuan dalam perjalanan harian. Pengamat pun menilai akar masalah kecelakaan bukan soal letak gerbong, melainkan masih bercampurnya jalur kereta jarak jauh dan KRL. Sementara itu KNKT mulai menyelidiki insiden yang juga menyebabkan 88 orang terluka dan kini masih dirawat. Kementerian Perhubungan juga mengevaluasi pihak terkait, termasuk taksi Green SM, diduga memicu kejadian. Presiden Prabowo yang datang menemui para korban pun disebut menyetujui anggaran Rp4 triliun untuk membangun pos pengamanan dan fly over di 1.800 titik perlintasan kereta api. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINIhttps://lenteratoday.com/upload/Epaper/29042026.pdf




.jpg)