JAKARTA (Lentera) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menegaskan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap berlanjut.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan media Axios pada Rabu (29/4/2026). Ia menyebut blokade laut sebagai strategi yang lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung.
"Blokade ini lebih efektif daripada serangan udara. Mereka tercekik seperti babi yang diisi. Dan situasinya akan semakin buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump, melansir Bloomberg.
Laporan Axios menyebutkan militer AS telah menyiapkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Rencana tersebut disiapkan sebagai langkah eskalatif untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Teheran.
Dampak langsung dari konflik ini terasa pada sektor energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7 persen dan diperdagangkan di atas US$119,50 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar US$108 per barel.
Lonjakan harga dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz selama hampir 2 bulan. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia, sehingga gangguan operasionalnya berdampak signifikan terhadap pasokan global.
Di sisi lain, ketahanan produksi minyak Iran juga mulai dipertanyakan. Perusahaan analitik energi Kpler memperkirakan Iran hanya memiliki kapasitas penyimpanan tersisa untuk 12 hingga 22 hari.
Namun, pejabat tinggi Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Penasihat militer Pemimpin Tertinggi, Mohsen Rezaee, menegaskan Iran akan segera membalas jika blokade terus berlanjut.
Senada dengan itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Trump berupaya memaksa Teheran menyerah melalui tekanan ekonomi dan upaya memicu perpecahan internal.
Meski tensi meningkat, Trump menyebut komunikasi antara kedua negara masih berlangsung secara tidak langsung melalui sambungan telepon. Upaya pertemuan langsung sebelumnya dilaporkan gagal terlaksana dalam agenda di Pakistan akhir pekan lalu.
Selain itu, pemerintah AS juga tengah mengupayakan penyitaan 2 kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran.
Editor: Santi




