04 May 2026

Get In Touch

Waspada El Nino Godzilla, Dinkes Kota Malang Ingatkan Risiko Sengatan Panas Bisa Picu Stroke

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, ditemui di kantor DPRD Kota Malang, Senin (4/5/2026). (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, ditemui di kantor DPRD Kota Malang, Senin (4/5/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Ancaman fenomena El Nino "Godzilla" pada musim kemarau 2026 perlu diwaspadai. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mengingatkan masyarakat terhadap meningkatnya risiko sengatan panas (heatstroke) akibat lonjakan suhu, yang berpotensi berujung pada penyakit stroke.

"Dengan meningkatnya suhu, potensi sengatan panas atau heatstroke juga ikut meningkat. Ini yang harus diwaspadai bersama," ujar Husnul, ditemui di Kantor DPRD Kota Malang, Senin (4/5/2026).

Ditambahkannya, kasus heatstroke selama ini identik terjadi di wilayah Arab Saud, khususnya saat pelaksanaan ibadah haji. Namun, kondisi serupa kini berpotensi terjadi di Indonesia seiring dengan perubahan iklim ekstrem.

Lebih lanjut, Husnul mengungkapkan heatstroke bukan sekadar kondisi kelelahan akibat panas. Dampaknya bisa jauh lebih serius, bahkan memicu penyakit berbahaya. Salah satu risiko utamanya adalah dehidrasi akut yang dapat mengganggu fungsi organ vital.

"Ketika seseorang mengalami heatstroke, tubuh akan kehilangan cairan secara signifikan. Selain itu, kerja jantung akan meningkat untuk memompa darah, yang dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah, terutama di otak," jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat menjadi pemicu awal terjadinya stroke. Oleh karena itu, masyarakat dengan riwayat penyakit tertentu diminta lebih waspada terhadap paparan panas berlebih.

"Orang dengan tekanan darah tinggi, diabetes melitus, atau yang memiliki riwayat stroke, memiliki risiko lebih tinggi jika terpapar panas ekstrem. Maka penting untuk melakukan self assessment," paparnya.

Sebagai langkah pencegahan, Husnul mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada jam-jam dengan intensitas panas tinggi. Husnul menyarankan agar aktivitas luar ruangan dilakukan sebelum pukul 10.00 WIB. Atau setelah sore hari.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk memprioritaskan aktivitas yang benar-benar penting jika harus keluar rumah. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalkan paparan panas berlebih yang berisiko terhadap kesehatan.

Tak hanya itu, asupan cairan juga menjadi faktor kunci dalam mencegah heatstroke. Husnul menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh, bahkan saat tidak merasa haus.

"Kebutuhan cairan minimal 2,5 hingga 3 liter per hari. Ini penting untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat, penguapan saat berbicara, maupun saat buang air kecil," paparnya.

Ia mengingatkan, kondisi dehidrasi yang dikombinasikan dengan suhu panas akan meningkatkan risiko terjadinya heatstroke. Oleh sebab itu, menjaga keseimbangan cairan tubuh menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Selain menjaga hidrasi, penggunaan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan. Masyarakat dapat menggunakan payung, topi, atau pakaian yang dapat melindungi tubuh dari paparan sinar matahari langsung.

Sebagai informasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan suhu udara di Indonesia pada musim kemarau 2026 tidak mencapai 40 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan atau heat index dapat mendekati angka tersebut, sehingga tetap berpotensi membahayakan kesehatan.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.