GERAK saling berpunggungan tampak pada indikator-indikator ekonomi Indonesia di Selasa (5/5/2026). Ekonomi tumbuh melesat 5,61 persen (year-on-year) pada kuartal I-2026, tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Angka ini sekaligus melampaui negara-negara G20 seperti China (5%), Singapura (4,6%), Korea Selatan (3,6%), Arab Saudi (2,8%), dan Amerika Serikat (2,7%). Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah justru tertekan hingga menyentuh Rp17.408 per dolar AS. .Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan lesunya mata uang Garuda bukan disebabkan oleh APBN yang goyah. Sebab, fefisit APBN per Maret 2026 tercatat aman, hanya 0,93% dari PDB (Rp 240,1 triliun), jauh di bawah batas 3%. Sementara, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan rupiah dipicu dua faktor utama. Tekanan global seperti penguatan dolar AS, suku bunga tinggi, dan yield US Treasury 10 tahun di level 4,47 persen. Serta faktor musiman berupa lonjakan permintaan dolar untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan musim haji. Terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen dan konsumsi pemerintah melonjak 21,31 persen. Ada juga faktor inflasi yang terjaga di 2,42 persen. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/06052026.pdf




.jpg)
.jpg)