14 May 2026

Get In Touch

Aktivitas Vulkanik Tinggi, Pencarian Tiga Pendaki Hilang di Gunung Dukono Berlanjut

Kolom abu berwarna putih kelabu kehitaman dari erupsi gunung api Dukono terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (9/5/2026) pukul 09.23 WIT. (foto: Pos PGA Dukono)
Kolom abu berwarna putih kelabu kehitaman dari erupsi gunung api Dukono terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (9/5/2026) pukul 09.23 WIT. (foto: Pos PGA Dukono)

HALMAHERA UTARA (Lentera) - Operasi pencarian terhadap tiga pendaki yang hilang di kawasan Gunung Dukono kembali dilanjutkan oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan pada Sabtu (9/5/2026).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Halmahera Utara, Henjte M.L. Hetharia, yang berada langsung di lokasi, mengatakan seluruh personel SAR harus bergerak dengan sangat hati-hati.

"Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam operasi ini, mengingat aktivitas Gunung Dukono masih tinggi," ujarnya, mengutip laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (9/5/2026).

Menurut informasi sementara, dua pendaki warga negara asing (WNA) dilaporkan telah terdeteksi berada hanya sekitar 20 hingga 30 meter dari bibir kawah aktif, sementara satu pendaki warga negara Indonesia (WNI) masih belum ditemukan.

Selain medan yang terjal, tim SAR juga harus memperhitungkan kemungkinan terjadinya erupsi susulan sewaktu-waktu. Karena itu, setiap langkah operasi dilakukan berdasarkan rekomendasi petugas Pos Pengamatan Gunung Api Dukono yang turut mendampingi di lapangan.

Aktivitas Gunung Dukono Masih Sangat Tinggi

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Dukono saat ini berstatus Level II atau Waspada. Status tersebut telah ditetapkan sejak 13 Juni 2008.

PVMBG juga menetapkan radius bahaya sejauh empat kilometer dari kawah aktif. Area tersebut dinyatakan tidak aman untuk aktivitas masyarakat, termasuk pendakian.

Sepanjang Sabtu (9/5/2026) sejak dini hari hingga pukul 11.00 WIT, Gunung Dukono tercatat mengalami beberapa kali erupsi. Pada pukul 06.10 WIT, tinggi kolom abu mencapai sekitar 3.000 meter di atas puncak dan mengarah ke utara.

Erupsi kembali terjadi pada pukul 07.31 WIT dan 09.12 WIT dengan tinggi kolom abu sekitar 2.000 meter di atas puncak. Sementara pada pukul 11.07 WIT, kolom abu teramati setinggi 900 meter ke arah timur laut, timur, dan tenggara.

PVMBG mencatat aktivitas kegempaan masih didominasi gempa letusan dengan amplitudo besar, menandakan erupsi masih berlangsung dengan intensitas tinggi.

Pendakian Gunung Dukono Sudah Ditutup Total

Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Utara sebelumnya telah menutup total aktivitas pendakian Gunung Dukono melalui Surat Keputusan Nomor 556/061 tertanggal 17 April 2026.

Melalui keputusan tersebut, operator, pengelola, dan penyedia jasa pendakian dilarang memberikan izin kepada siapa pun untuk mendaki. Masyarakat dan wisatawan juga dilarang memasuki kawasan rawan bencana dalam radius empat kilometer dari kawah.

Setelah insiden hilangnya tiga pendaki pada Jumat (8/5/2026), pemerintah daerah kembali menegaskan larangan pendakian melalui surat bernomor 500.10.5.3/491.

Pemerintah daerah meminta seluruh pihak mematuhi penutupan jalur pendakian dan memperhatikan potensi bahaya erupsi. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan.

BNPB Ingatkan Pendaki Patuhi Radius Bahaya Gunung Api

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rekomendasi pembatasan aktivitas di kawasan rawan bencana gunung api.

BNPB menegaskan larangan memasuki zona berbahaya tidak hanya berlaku di Gunung Dukono, tetapi juga di sejumlah gunung api aktif lain di Indonesia, seperti Gunung Lewotobi Laki-Laki, Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Rinjani, dan Gunung Bromo.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.