16 June 2026

Get In Touch

Hantavirus Meningkat, DPRD Jatim Tekankan Penguatan Edukasi Masyarakat

Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni
Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni

SURABAYA (Lentera) - DPRD Jawa Timur menekankan pentingnya penguatan edukasi masyarakat menyusul meningkatnya kasus hantavirus di Indonesia.

Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni mengatakan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah preventif agar penyebaran penyakit tidak meluas.

"Ini harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Jangan sampai masyarakat lengah terhadap ancaman penyakit yang bersumber dari lingkungan dan hewan pengerat," ungkapnya, Senin (11/5/2026).

Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus hantavirus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga pasien meninggal dunia, termasuk satu kasus di Jawa Timur.

Politisi Fraksi Demokrat itu mendorong Dinas Kesehatan bersama pemerintah kabupaten/kota memperluas edukasi terkait pola hidup bersih dan pengendalian tikus di kawasan permukiman, pasar tradisional, hingga saluran air.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa hantavirus berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan dan paparan tikus yang terinfeksi. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara masif melalui keterlibatan seluruh pihak.

"Pencegahan paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Karena virus ini berkaitan erat dengan sanitasi dan paparan dari tikus yang terinfeksi," katanya.

Sri Wahyuni juga meminta perhatian khusus diberikan kepada kelompok pekerja dengan risiko tinggi seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, hingga pembersih selokan melalui sosialisasi dan perlindungan kesehatan kerja.

Selain edukasi masyarakat, ia meminta fasilitas kesehatan meningkatkan deteksi dini terhadap pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada hantavirus, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan rentan terkontaminasi.

Ia menegaskan koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar potensi penyebaran penyakit dapat ditekan sejak dini. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak boleh menunggu lonjakan kasus sebelum mengambil langkah antisipasi.

"Kami mendorong adanya langkah preventif secara masif. Edukasi masyarakat dan pengendalian lingkungan harus diperkuat supaya kasus tidak berkembang," tegasnya.

Sebelumnya, Kemenkes mencatat tambahan lima kasus baru hantavirus pada tahun 2026. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY. Penularan hantavirus dapat terjadi melalui gigitan tikus, paparan urine, saliva, kotoran, hingga debu yang telah terkontaminasi. Namun hingga kini belum ditemukan penularan antarmanusia di Indonesia. (adv)

Reporter: Pradhita/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.