MALANG (Lentera) - Seorang pakar gizi dari Malang menyoroti menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih minim penggunaan protein nabati dari pangan lokal, padahal Indonesia memiliki beragam sumber gizi seperti aneka polong-polongan yang dinilai lebih bernutrisi tinggi.
"Sebenarnya banyak yang sudah komentar tentang sumber gizi dalam MBG. Cuma kalau menurut saya, MBG ini masih belum sepenuhnya memanfaatkan pangan lokal," ujar Dokter Umum Bersertifikasi pangan Nabati, dr. Rochelle Vernique Siem dikutip, pada Kamis (14/5/2026).
Dinilainya, hingga saat ini pemerintah masih terlalu bergantung pada bahan pangan yang cenderung mengikuti pola konsumsi Barat, salah satunya susu sapi.
Ia menjelaskan, konsumsi susu sapi setiap hari belum tentu cocok bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Terlebih anak-anak yang merupakan penerima manfaat program MBG. Hal itu karena sebagian besar orang Asia, termasuk masyarakat Indonesia, memiliki intoleransi laktosa.
"Sekitar 70 persen orang Asia intoleran terhadap laktosa. Kalau anak-anak minum susu terus setiap hari, sebenarnya belum tentu cocok dengan kondisi tubuh kita," katanya.
Rochelle menyebut, pemerintah seharusnya lebih mengutamakan sumber protein nabati yang tersedia melimpah di berbagai daerah. Indonesia, katanya, memiliki beragam jenis polong-polongan yang dapat diolah menjadi makanan bergizi dengan biaya lebih rendah.
Ia mencontohkan, tempe yang selama ini identik dengan kedelai. Padahal, menurut Rochelle, tempe juga dapat dibuat dari kacang merah, kacang hijau, maupun jenis kacang lokal lainnya yang banyak ditemukan di pasar tradisional.
"Dari Sabang sampai Merauke, kita punya banyak sekali polong-polongan. Ini yang seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung program MBG," terangnya.
Selain lebih ekonomis, makanan berbasis nabati juga dinilai memiliki nilai gizi yang tinggi. Rochelle menegaskan, protein nabati bukan berarti lebih rendah dibandingkan protein hewani, selama menu disusun secara tepat dan beragam.
Ia juga menyoroti, penggunaan menu olahan ayam potong dalam menu MBG yang dinilai perlu dievaluasi. Menurutnya, ayam broiler memiliki kandungan lemak yang berbeda dibanding ayam kampung, sehingga kualitas bahan pangan perlu menjadi perhatian serius dalam program berskala nasional tersebut.
Dalam kesempatannya ini, Rochelle mendorong, pemerintah untuk memberikan pelatihan kepada penyedia MBG maupun para pengambil kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional, agar lebih memahami manfaat pola makan berbasis nabati dan pemanfaatan pangan lokal.
Menurutnya, masih banyak stigma negatif terhadap pola makan nabati di Indonesia. Tidak sedikit yang beranggapan makanan tanpa daging akan menyebabkan kekurangan protein dan gizi, padahal berbagai penelitian ilmiah menunjukkan sebaliknya.
"Yang penting adalah keberagaman dan kecukupan zat gizi. Kalau disusun dengan benar, makanan nabati sangat bergizi, lebih hemat, dan lebih ramah terhadap kesehatan," tegasnya.
Ia berharap, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi pangan lokal dan protein nabati terus meningkat.
Dengan keasadaran dari masyarakat, Rochelle optimistis pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian menu MBG agar lebih sehat, terjangkau, dan sesuai dengan karakteristik biologis masyarakat Indonesia.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais



