GEJOLAK hebat mengguncang pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Senin (18/5/2026). Nilai tukar rupiah kembali terpuruk hingga menembus Rp17.660 per dolar AS, sementara IHSG anjlok lebih dari 4 persen ke level 6.400-an. Hal ini di tengah derasnya aksi jual investor asing dan meningkatnya sentimen risk off global. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pun habis-habisan menjaga stabilitas pasar. Salah satu langkahnua dengan menggelontorkan intervensi di pasar obligasi hingga Rp2 triliun per hari. Harapannya dapat menahan tekanan terhadap rupiah dan arus modal keluar. Reuters melaporkan cadangan devisa Indonesia telah terkuras sekitar US$10 miliar sepanjang tahun ini akibat intervensi menjaga rupiah. Namun Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan tekanan diperkirakan mereda pada Juli–Agustus sehingga kurs rupiah berpeluang kembali stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kuat. Pemerintah menilai pelemahan pasar lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek ketimbang memburuknya kondisi ekonomi domestik. Benarkah ekonomi RI sedang baik-baik saja?. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/19052026.pdf




.jpg)