SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah studi psikologi dari University of Denver, Amerika Serikat, mengungkap temuan yang memperkuat ungkapan populer “sekali selingkuh, tetap selingkuh.” Meski terdengar seperti klise dalam hubungan asmara, penelitian menunjukkan bahwa pola tersebut memang memiliki kecenderungan berulang secara statistik.
Penelitian yang dilakukan tim psikolog klinis University of Denver ini dipublikasikan pada 2017. Studi tersebut meneliti apakah individu yang pernah melakukan perselingkuhan dalam hubungan sebelumnya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengulang perilaku yang sama pada hubungan berikutnya.
Dalam riset tersebut, para peneliti melibatkan 484 orang dewasa muda di Amerika Serikat. Para partisipan diminta mengisi serangkaian kuesioner yang berkaitan dengan pengalaman hubungan romantis, termasuk riwayat perselingkuhan, pengalaman diselingkuhi, serta dinamika relasi yang pernah mereka jalani.
Hasilnya menunjukkan adanya pola yang cukup konsisten yaitu perilaku tidak setia cenderung berulang. Individu yang pernah berselingkuh tercatat sekitar tiga kali lebih mungkin untuk kembali melakukan perselingkuhan dalam hubungan berikutnya dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Tidak hanya itu, penelitian juga menemukan bahwa mereka yang pernah menjadi korban perselingkuhan atau mencurigai pasangan mereka tidak setia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kejadian serupa di masa depan, yakni sekitar dua hingga empat kali lebih besar.
Dalam salah satu pernyataannya, peneliti utama studi tersebut, Kayla Knopp, yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral psikologi klinis di University of Denver, menegaskan bahwa pengalaman masa lalu memiliki pengaruh besar terhadap pola hubungan seseorang. Ia mengatakan:“Masa lalu sangat berpengaruh dalam hubungan.”
Knopp kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa pola hubungan seseorang cenderung terbawa dari satu hubungan ke hubungan lainnya, tidak hanya dalam kasus perselingkuhan, tetapi juga dalam berbagai dinamika relasi lainnya.
“Apa yang kita lakukan dalam perjalanan hubungan romantis akan memengaruhi apa yang terjadi selanjutnya, baik itu perselingkuhan, tinggal bersama pasangan, maupun perilaku hubungan lainnya. Riwayat itu cenderung terus terbawa,”katanya.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa sekitar 40 persen pasangan yang belum menikah mengaku pernah mengalami perselingkuhan dalam hubungan mereka. Menariknya, studi ini tidak menemukan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemungkinan berselingkuh atau menjadi korban perselingkuhan. Keduanya dinilai memiliki peluang yang relatif sama.
Meski temuan ini terlihat cukup pesimistis bagi hubungan romantis, para peneliti menekankan bahwa hasil tersebut bukanlah kepastian mutlak, melainkan kecenderungan statistik. Artinya, meskipun ada pola pengulangan, masih banyak individu yang berhasil keluar dari siklus tersebut dan membangun hubungan yang lebih sehat.
Knopp menegaskan hal ini, “Terlepas apakah Anda pelaku perselingkuhan atau korbannya, pengalaman itu memang lebih mungkin terulang.”
Namun ia juga menambahkan bahwa perubahan tetap memungkinkan dan tidak semua orang terjebak dalam pola yang sama.“Namun, ada banyak orang yang berhasil keluar dari pola tersebut.”
Lebih jauh, Knopp menekankan, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan korban perselingkuhan. Ia menolak anggapan bahwa pengalaman buruk dalam hubungan merupakan sesuatu yang pantas diterima seseorang.
“Saya tidak ingin mengatakan bahwa seseorang pantas diselingkuhi,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa penting bagi setiap individu untuk melakukan refleksi terhadap pola hubungan yang mereka jalani agar tidak terus mengulang pengalaman yang sama.
“Tetapi penting untuk menyadari bahwa kita semua memiliki peran dalam hubungan.”
Menurutnya, kesadaran terhadap faktor risiko dalam hubungan dapat membantu seseorang mengambil langkah yang lebih sehat dan terkontrol dalam kehidupan asmara mereka di masa depan.
“Harapannya, dengan mengetahui faktor risikonya, orang bisa memiliki lebih banyak kendali atas kehidupan mereka sendiri,” tutup Knopp.
Tanda 'Red Flag'
Sebuah penelitian terbaru lainnya kembali menyoroti faktor-faktor yang dapat menjadi “red flag” dalam hubungan asmara, terutama terkait potensi perselingkuhan. Studi yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Koç University, Istanbul, Turki, mengungkap bahwa terdapat empat tanda yang dapat menunjukkan seseorang lebih rentan untuk berselingkuh.
Penelitian ini dipublikasikan dalam The Family Journal dan bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai faktor yang berkaitan dengan perilaku perselingkuhan, mengingat dampaknya yang besar terhadap hubungan pasangan maupun keluarga.
Para peneliti menegaskan pentingnya isu ini dalam konteks kesehatan hubungan. Mereka menyampaikan dalam laporan studi yang dikutip dari Daily Mail.
“Temuan ini menyoroti pentingnya menangani masalah perselingkuhan orang tua, kecenderungan menghindari kedekatan pada masa dewasa, serta masalah keintiman dalam terapi pasangan, mengingat risiko terjadinya perselingkuhan,” tulis penelitian itu.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 280 responden dilibatkan untuk mengisi survei terkait hubungan asmara mereka. Seluruh partisipan berusia 18 hingga 30 tahun, belum menikah, tidak memiliki anak, dan sedang menjalani hubungan setidaknya selama satu tahun. Mereka ditanya mengenai riwayat keluarga, gaya hubungan, serta niat mereka untuk melakukan perselingkuhan.
Hasil studi menunjukkan bahwa riwayat masa lalu memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku seseorang. Individu yang pernah berselingkuh dalam hubungan sebelumnya cenderung lebih berisiko mengulang perilaku tersebut. Selain itu, risiko juga meningkat apabila salah satu orang tua mereka pernah berselingkuh.
Peneliti menjelaskan bahwa pola tersebut dapat terbentuk dari proses peniruan perilaku dalam keluarga. “Individu dapat meniru perilaku pasif-agresif orang tua mereka sebagai bentuk perlindungan terhadap hubungan romantis mereka di masa depan, dan cenderung menghindari menunjukkan emosi secara tulus, terutama emosi negatif dalam hubungan.”
Selain faktor keluarga dan riwayat hubungan, penelitian juga menemukan bahwa kualitas hubungan turut berperan besar. Hubungan yang kurang memiliki keintiman emosional serta kepuasan seksual yang rendah lebih rentan mendorong seseorang untuk berselingkuh. Hal ini terjadi karena adanya kebutuhan emosional atau seksual yang tidak terpenuhi dalam hubungan utama, sehingga individu mencari pemenuhan dari pihak lain.
Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa perselingkuhan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, pengalaman masa lalu, dan kualitas hubungan yang sedang dijalani.(ist/dya)




