OPINI (Lentera) -Presiden Prabowo Subianto wajahnya memerah. Ia naik pitam. Mendapat laporan bajak laut di darat tingkahnya semakin brutal.
Bajak laut di darat ? Ya, betul....bajak laut di darat makin merajalela. Bajak laut memang biasanya beraksi di laut. Membawa kapal dan bersenjata api. Menguras seisi atau sebagian muatan kapal.
Tapi bajak laut di darat ?. Beraksi dalam ruangan ber AC. Menghadap komputer. Memainkan jari - jari sambil mengunyah permen karet. Santai Bro....!!!
Hasilnya? Bisa beribu kali lipat. Dari hasil bajak laut di laut. Ini memang bajak laut klas Dewa Kayangan. Disebut bajak laut di darat karena mereka mempermainkan ekspor- impor barang lewat laut, dari daratan.
Presiden marahnya gak ketulungan. Dipanggillah Menkeu Purbaya Yudi Sadewa. Minta agar skandal ini segera dibereskan.
Purbaya yang cekatan: SIAP.....!!!
Tak pakai lama. Ia mengerahkan para ahli dan bantuan teknologi AI.
Untuk mengungkap data (terutama angka-angka), manusia punya keterbatasan. Teknologi AI mampu mengatasi. Bisa pula menunjukkan, mana asli. Manapula data manipulasi.
Terbongkarlah 10 perusahaan melakukan skandal besar: "under invoicing, over invoicing & transfer pricing". Waduh... keren amat istilahnya. Si Mamat penjual cilok gak ngerti Bang. Apa itu?
Kalau pakai bahasa rakyat. "Under invoicing" itu artinya ekspor rendah nilai. Jadi barang yang diekspor, nilainya dilaporkan lebih rendah. Jual batu bara senilai $ 10 juta US, tapi hanya dilaporkan $ 4 juta US.
Badalah.....!!!. Tak tanggung-tanggung. Kurang dari separo. Itu devisa hasil ekspor (DHE) Bro.
Jangan mai-main2. Bayangkan dolar yang sebenarnya harus masuk negara, malah diparkir di luar negeri. Ini membuat pasokan dolar jadi seret.
Sedangkan "over invoicing" adalah kebalikannya "under invoicing". Importir beli barang di luar negeri. Harganya Dilaporkan jauh lebih mahal.
Beli mesin $ 3 juta US, dilaporkan $ 6 juta US. Pembayaran tidak cash. Tapi lewat sistem perbankan lho. Jadi tampak legal, tapi kenyataannya ilegal. Ini mark up harga.
Bayar pakai dolar Bro. Maka capital flight terjadi dalam sekejap. Dolar yang terbang ke luar negeri jauh lebih besar dari semestinya. Tambah seretlah dolar di dalam negeri.
Lalu yang disebut "transfer pricing" adalah manipulasi harga transfer. Ini sodara kandung dari dua yang di atas. Dilakukan perusahaan multinasional yang punya cabang di berbagai negara. Perusahaan di Indonesia ini menjual bahan baku ke perusahaan afiliasi ( perusahaan cangkang) di luar negeri. Misal di Singapura
Dengan harga sangat murah (under pricing). Kapal yang mengangkut barang dari Indonesia itu tidak bongkar muatan di Singapura.
Tapi terus berlayar menuju negara lain pembeli terakhir. Cabang perusahaan di luar negeri inilah yang menjual ke pembeli akhir dengan harga pasar, yang jauh lebih tinggi.
Perusahaan ini memperoleh keuntungan sangat besar. Sedangkan Indonesia hanya dapat remah- remahnya.
Kita Dikadalin
Begitulah Bro. Akibat ulah eksportir/importir nakal, angka di atas kertas, perdagangan tampak surplus.
Tapi dolarnya tak masuk dompet negara. Sialan....!!!. Kita dikadalin.
BI pun kekurangan peluru dolar untuk menjaga stabilitas rupiah. Maka, jangan heran kalo dolar AS kemarin sempat nyentuh Rp 18.000. Hingga BI rate ngedan dinaikkan 50 bps.
Apakah yang dilakukan bajak laut di darat ini, termasuk kejahatan baru ? Ah tidak juga. Kejahatan itu disinyalir telah berlangsung puluhan tahun.
Namun agaknya pemerintah memejamkan sebelah mata. Kini Pabowo mendobraknya. Di depan anggota DPR kemarin, pidatonya berapi -api. Presiden berjanji akan menuntaskan masalah ini.
Antara lain dengan cara membentuk Badan Khusus yang menangani ekspor komoditas strategis. Nanti, ekspor komoditas khusus, tidak lagi dilakukan oleh persahaan tambang. Tapi lewat satu pintu, yaitu BUMN.
Langkah ini dianggap bagus. Perolehan devisa akan lebih terkontrol. Bahkan Purbaya yang ditanya Bos Trans TV Chaerul Tanjung menyebut, gebrakannya itu tahun depan satu dolar AS akan turun menjadi Rp 15.000.
Optimis atau over optimis? Kedengarannya seperti angin surga. Bertiup saat udara gerah. Tapi siapa tahu. Kita sudah melihat sepakterjang Prabowo.
Tapi apakah BUMN baru ini bisa dipercaya Bro? Kita sudah melihat sepakterjang Purbaya. Sejarah telah membuktikan. BUMN di negeri ini tak lebih baik dari swasta. Dari dulu, BUMN terkenal sebagai sapi perah. BUMN keren kok rugi. Kita ikuti saja babak selanjutnya. Rakyat sudah terlampau berat menahan beban hidup ini (*)
Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH



