27 May 2026

Get In Touch

Sulit Cari Tempat Buang "Bulky Waste" Warga Mengadu ke Anas Karno

Anas Karno saat reses di Kutisari Surabaya.
Anas Karno saat reses di Kutisari Surabaya.

SURABAYA (Lentera) - Persoalan pembuangan sampah rumah tangga berukuran besar (bulky waste) seperti kasur, sofa, lemari hingga perabot bekas menjadi keluhan utama warga dalam kegiatan reses Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya Fraksi PDI Perjuangan, Anas Karno, di RT 02 RW 02 Kutisari Utara, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Senin (25/5/2026) malam.

Warga mengaku masih kesulitan mencari lokasi resmi untuk membuang bulky waste. Ketua RT 02 RW 02 Kutisari Utara, Miswanto, mengatakan persoalan sampah besar sering muncul setelah kerja bakti lingkungan maupun renovasi rumah warga.

"Kadang warga punya kasur bekas, lemari rusak atau sofa lama bingung mau dibuang ke mana. Kalau dibuang sembarangan takut kena sanksi, tapi kalau harus buang sendiri juga tidak semua warga punya kendaraan," ujar Miswanto.

Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan aspirasi terkait penguatan ekonomi masyarakat melalui bantuan permodalan bagi koperasi lingkungan maupun paguyuban pinjaman warga.

Menanggapi keluhan tersebut, Anas Karno menilai persoalan sampah rumah tangga berukuran besar tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Menurutnya, diperlukan keterlibatan aktif pemerintah kota hingga jajaran kelurahan dan kecamatan.

"Aspirasi warga ini harus dicarikan solusi bersama. Jangan sampai masyarakat bingung membuang kasur atau sofa bekas lalu akhirnya dibuang sembarangan karena tidak tahu tempatnya," kata Anas.

Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebenarnya telah menyediakan sejumlah TPS yang melayani pembuangan bulky waste atau sampah rumah tangga berukuran besar di berbagai wilayah kota.

Di Surabaya Timur misalnya tersedia di TPS Bratang, TPS Mojoarum, TPS Wisma Permai, dan TPS Tenggilis Utara. Sementara di Surabaya Barat terdapat TPS Karangpoh, TPS Balongsari, dan TPS Kendung Makam.

Kemudian di Surabaya Pusat tersedia TPS Kedunganyar, TPS Peneleh, dan TPS Bukit Barisan. Untuk Surabaya Selatan terdapat TPS Bintang Diponggo, TPS Bratang Lapangan, dan TPS Gayungsari YKP. Sedangkan di Surabaya Utara tersedia TPS Tanah Kali Kedinding, TPS Memet, dan TPS Benteng.

Menurut Anas, informasi mengenai lokasi TPS bulky waste tersebut masih belum banyak diketahui masyarakat. Karena itu, ia meminta pihak kelurahan dan kecamatan lebih aktif melakukan sosialisasi hingga tingkat RT dan RW.

"Kami akan dorong agar pihak kelurahan dan kecamatan aktif menyampaikan informasi lokasi TPS khusus sampah besar kepada warga sampai tingkat RT dan RW. Jadi masyarakat tahu harus membuang ke mana," tegasnya.

Tak hanya sosialisasi, Anas juga mendorong adanya mekanisme pengangkutan sampah besar secara berkala melalui koordinasi antara kelurahan, kecamatan dan dinas terkait.

"Kalau ada sistem pengangkutan terjadwal melalui koordinasi kelurahan dan kecamatan, tentu akan sangat membantu masyarakat dan mencegah munculnya titik pembuangan liar," katanya.

Menurutnya, persoalan kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama karena berdampak langsung terhadap kesehatan dan kenyamanan warga.

"Lingkungan bersih itu tanggung jawab bersama. Pemerintah harus hadir memberi solusi, sementara masyarakat juga harus tertib menjaga kebersihan," ujarnya.

Di bidang ekonomi, Anas memastikan aspirasi terkait bantuan penguatan koperasi warga akan turut diperjuangkan agar dapat membantu kebutuhan ekonomi masyarakat kecil di Kutisari Utara.

"Koperasi lingkungan ini penting untuk membantu perputaran ekonomi warga. Aspirasi seperti ini akan kami kawal agar mendapat perhatian pemerintah," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.