
BONDOWOSO (Lenteratoday) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berharap Kabupaten Bondowoso bisa mengembangkan BUMD dan Trading House Kopi. Untuk itu, Pemprov Jatim memberikan bantuan 100 ribu batang bibit kopi, dan 20 ribu kilo gram pupuk organic.
Hal itu dilakukan supaya akan ada proses penanaman pembibitan kopi lebih banyak dan luas. Sehingga produktivitas kopi Bondowoso bisa lebih banyak lagi. Terlabih lagi sata ini kabupaten Bondowoso dikenal sebagai Republik Kopinya Indonesia.
Lebih lanjut, bantuan tersebut diserahkan pada Prima Tani III (Edy Suganto) sebanyak 50 ribu batang bibit kopi dan 10 ribu kg pupuk organik, kemudian Sumber Karya Pondok Jeruk (Untung Suropati) sebanyak 50 ribu batang bibit kopi dan 10 ribu kg pupuk, serta Tunas Harapan II berupa bangunan pengolahan dan kopi senilai Rp 140 juta.
“Semoga apa yang kita serahkan hari ini bisa menjadi pendorong pemulihan ekonomi Jawa Timur. Kami ingin memastikan bahwa rakyat sehat, ekonomi sehat. Yang terpenting adalah masyarakatnya sehat, ekonomi sehat, masyarakatnya selamat dan ekonominya juga selamat,” kata Khofifah, saat melakukan kunjungan di Bondowoso (15/11/2020).
Dia menandaskan bahwa, jika potensi kopi ini dikembangkan, maka bisa menjadi sentra andalan dan unggulan Bondowoso dengan produksi kopinya yang secara kualitas terjaga, kuantitas dikembangkan.
“Ada kekhawatiran dari Kepala Perwakilan BI Jatim. Kemungkinan kalau permintaan (demand) besar seperti di Indonesia ini, tidak ada penanaman baru, maka tiga tahun ke depan bisa-bisa kita impor. Sehingga ekstensifikasi lahan, intensifikasi dari proses untuk bisa memberikan produksi yang lebih maksimal perlu dilakukan,” katanya.
Lanjutnya, ada proses penanaman yang harus dilakukan ekstensifikasinya, kemudian ada maintenance supaya bisa menjaga produktivitas dan kualitasnya. Hal itu akan lebih baik dengan tunjangan penggunaan pupuk organic.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menandaskan bahwa melalui BUMD dan Trading House Kopi, maka Kabupaten Bondowoso bisa menentukan stabilisasi harga kopi. Tidak lagi harga Kopi Bondowoso ditentukan oleh pihak lain, tetapi harga kopi bisa ditentukan trading house Republik Kopi Bondowoso.
“Jadi bagaimana maksimalisasi dari kinerja BUMD termasuk SDM di dalamnya. Kalau resi gudangnya bisa dimaksimalkan sampai tahap berikutnya ada trading house. Ini sudah advance jika sampai trading house,” kata orang nomor satu di Jatim ini.
Untuk mewujudkannya, Khofifah meminta Kabupaten Bondowoso menyiapkan kelembagaannya dan menginventarisir sumber daya manusianya sesuai tuntutan saat ini. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengundang tokoh-tokoh penting asal Bondowoso untuk kembali ke Bondowoso mengembangkan BUMD dan Trading House Kopi ini.
“Dengan diperkuat jejaring pasar pasca panen, olahan, dan kemasan. Bondowoso bisa jadi top of the top penghasil kopi. Saat ini untuk Jatim produksi kopi Bondowoso masuk peringkat empat setelah Banyuwangi, Jember dan Malang,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Khofifah menjelaskan, pengembangan kopi di Bondowoso juga bisa dilakukan dengan akses penanaman atau ekstensifikasi dan intensifikasi. (ufi)