
BLITAR (Lenteratoday) - Belum tuntas masalah limbah yang mencemari sungai, sumur, dan bau tidak sedap yang diduga dampak dari peternakan sapi perah PT. Greenfields Indonesia, warga Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar kembali wadul DPRD setempat. Pasalnya, jalan akses menuju Wisata Perkebunan Sirah Kencong ditutup pihak pabrik susu tersebut.
Puluhan perwakilan warga yang mendatangi Kantor DPRD tidak terima penutupan jalan kampung menuju Wisata Perkebunan Sirah Kencong oleh PT. Greenfields Indonesia. Warga berdalih, jalan tersebut sudah lama ada, bahkan sejak sebelum adanya peternakan sapi perah terbesar di Kabupaten Blitar tersebut. Warga juga merasa sejak hadirnya perusahaan itu malah mengakibatkan limbah kotoran sapi yang mencemari sungai, sumber air, dan udara.
Warga yang tergabung Masyarakat Ngadirenggo Bersatu diterima langsung Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Suwito, didampingi Ketua Komisi III, Sugianto, dan Ketua Komisi I, M Sulistyono serta berikut anggota dari kedua komisi. Mereka pun menggelar hearing bersama pihak PT. Greenfields.
Mengawali hearing, perwakilan warga Desa Ngadirenggo, Mariyono menyampaikan kekecewaan warga dengan adanya tindakan penutupan akses jalan menuju Wisata Perkebunan Sirah Kencong yang dilakukan oleh PT. Greenfields. Akses jalan dialihkan, pada jalan yang menanjak dan sudah mengakibatkan lebih dari 10 kali kecelakaan.
“Kami kecewa dengan penutupan akses jalan mudah menuju Wisata Sirah Kencong ini, padahal jalan tersebut sudah lama ada sebelum adanya PT. Greenfields,” ujar Mariyono.
Demikian juga Kepala Desa Ngadirenggo, Rizki menuturkan permasalahan tersebut belum ada solusinya sampai sekarang. Padahal, penutupan jalan tersebut sangat merugikan sektor pariwisata di tempat itu. "Karena sudah mulai banyak wisatawan, berkunjung kembali ke tempat Wisata Perkebunan Sirah Kencong," tuturnya.
Selain itu, keberadaan PT. Greenfields jauh dari apa yang dibayangkan warga sekitar. Bahkan, warga mengaku hanya mendapat limbah dari kotoran sapi berupa pencemaran sungai, sumur, dan bau tidak sedap. Masyarakat belum merasakan adanya sinergitas antara warga dengan perusahaan. Jumlah tenaga kerja lokal yang diserap juga sangat sedikit.
"Info yang kami dapatkan, pihak PT. Greenfields melibatkan pihak ketiga dan tidak mengutamakan kerjasama dengan desa-desa sekitar termasuk desa kami Ngadirenggo,” tegas Riski.
Sementara itu, pihak PT. Greenfields, melalui Sunarko menanggapi jika perusahaan memang menerapkan sistem Bio Security. Dia mengatakan, sebelum ada polemik ini pihaknya sudah mengadakan pertemuan dengan 6 Kades, tidak hanya wilayah Wlingi tapi juga Doko.
“Kita tetap mengijinkan masyarakat terutama warga setempat atau yang punya lahan pertanian, bisa menggunakan melewati akses jalan tersebut. Namun tetap menerapkan protokol kesehatan dan aturan yang diterapkan perusahaan (Bio security) dan dikasih stiker, bukan untuk akses bagi masyarakat umum,” ungkap Sunarko saat hearing.
Sunarko juga mengaku sudah berdialog dengan warga setempat dan camat, serta menaikkan permukaan jalan agar tidak menanjak. Sedangkan terkait limbah dari PT. Greenfields juga sudah mulai berkurang, namun untuk penanganan limbah membutuhkan waktu dan proses.
Menanggapi keluhan warga Desa Ngadirenggo dan penjelasan dari kedua belah pihak serta Komisi I dengan sumber data dari BPN. Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Suwito mengaku telah menerima banyak aduan warga terkait pencemaran limbah kotoran sapi. Dan hari ini keluhan masyarakat bertambah akibat penutupan jalan menuju Wisata Perkebunan Sirah Kencong.
“Permasalah ini memang harus ada solusi segera, karena sesuai data BPN jalan yang ditutup termasuk jalan umum dan tidak masuk akses kawasan peternakan dalam HGU PT. Greenfields. Maka kami minta agar akses jalan tersebut segera dibuka, serta digunakan untuk umum atau masyarakat," kata Suwito.
Ditambahkan Suwito bahkan selain data BPN, sesuai histori yang disampaikan warga Desa Ngadirejo jalan tersebut sudah lebih dulu ada, jauh sebelum PT. Greenfields berdiri. "Kami minta semua bisa kompromi dan menerima, maka jalan tersebut harus dibuka kembali," tutup politisi PDIP ini. (ais)