10 April 2025

Get In Touch

Melalui Program Padat Karya, Pemkot Kediri Perbaiki 85 Rumah Tak Layak Huni

Salah satu rumah tidak layak huni yang usai diperbaiki melalui program padat karya Pemkot Kediri.
Salah satu rumah tidak layak huni yang usai diperbaiki melalui program padat karya Pemkot Kediri.

KEDIRI (Lenteratoday) - Program padat karya Pemkot Kediriyang ada di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Kediri menyentuh perbaikan rumah tidak layak huni. Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, mencanangkan program tersebut pada awal September 2020 lalu dan sudah memperbaiki sedikitnya 85 rumah tidak layak huni.

Program padat karya terdiri dari sejumlah proyek di Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan dan  Permukiman, DLHKP (Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Konsep proyek padat karya yaitu sebuah pekerjaan yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

“Di Perkim, proyek padat karya ada 4 yaitu pengedukan walet, perbaikan perumahan tidak layak huni, pavingisasi jalan yang masih tanah, dan renovasi pagar makam. Total dana Rp 4,5 miliar,” kata Hadi Wahjono, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Kediri, Kamis (11/12/2020).

Menurut Ahmad Qusairi, Kasi Infrastruktur Permukiman, melalui program ini berhasil membangun sejumlah 85 titik rumah tidak layak huni. Mekanisme pendataan warga yang rumahnya tak layak huni melalui RT/RW ke lurah masing-masing.

“Kami harus memprioritaskan yang paling membutuhkan dan harus segera dilakukan pembangunan mengingat dananya terbatas. Maka bagi warga yang belum mendapat giliran meski sudah terdata, diharap bisa menunggu,” kata Qusairi.

Dana perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) ada dua sumber yaitu dari APBD dan APBN melalui DAK (Dana Alokasi Khusus). Masing-masing KK mendapat alokasi anggaran Rp 20 juta, namun mensyaratkan harus ada modal dari pemilik rumah, baik modal uang maupun bahan bangunan. Jadi DAK sifatnya hanya dana pendamping dari keperluan pembangunan rumah.

Tahun 2020, Pemkot Kediri mendapatkan DAK Perkim sebanyak 42 titik. Namun karena pertimbangan masyarakat sulit untuk punya modal, maka ada pengalihan dana ke tahun 2021. Rencananya tahun depan pembangunan akan membidik 114 titik rumah tak layak huni dari dana ini.

“Pak Wali memasukkan RTLH dalam proyek padat karya ini, jadilah ada 85 titik rumah yang dibangun,” tambah Qusairi. Proyek padat karya ini tidak mensyaratkan pemilik rumah memiliki modal. Di sanalah terlihat kegotongroyongan warga merealisasikan rumah tetangga yang membutuhkan.

Para penerima dana perbaikan sangat merasakan manfaat proyek padat karya ini. Salah satunya Ika Sumaryani, 36, warga Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto. “Sekarang kalau ada angin, saya tidak khawatir lagi rumah saya akan roboh. Saya berterima kasih kepada Pemkot Kediri yang sudah membangunkan rumah untuk kami,” kata Ika yang menggambarkan sebelumnya, tembok rumahnya sudah sangat rapuh.

Ika tinggal di gang sempit bersama suami yang bekerja sebagai kuli dan 3 orang anak. Bila ada angin, apalagi pada saat malam hari, ia khawatir sewaktu-waktu rumahnya roboh. Tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumahnya.

Sejak pandemi Covid-19, penghasilan Ika  sebagai pedagang jajanan di dekat Pondok Lirboyo menurun drastis karena santri banyak yang pulang. Mimpi membangun rumah semakin jauh sebelum program padat karya menghampirinya. “Untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi saat pandemi seperti sekarang,” keluh Ika. (gos)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.