
SURABAYA (Lenteratoday) - Pandemi Covid 19 yang sudah berjalan selama satu tahun, telah diantisipasi oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Meskipun pembelajaran tatap muka dilarang, namun Dispendik Surabaya optimis, kualitas pendidikan bagi siswa siswi tetap terjaga.
Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Mamik Suparmi, menjelaskan Sebelum pandemi sekitar bulan Maret 2019, pemerintah pusat melalui Kemendikbud mengadakan tes kepada Kepala Sekolah SD, SMP negeri maupun swasta serta pengawas se Indonesia terkait dengan pemanfaatan IT.
"Ketika diumumkan pada bulan Oktober sampai November 2019 dari situ sekitar 35 peserta asal Surabaya berhasil lolos seleksi. Setelah dinyatakan lulus, mereka diundang oleh Kemendikbud untuk pelatihan di Solo, Lembaga Pemberdaya dan Pengembangan Kepala Sekolah, (LPPKPS). Lembaga khusus milik kemendikbud khusus untuk pengembangan kepala sekolah dan pengawas," ujarnya, Minggu (18/4/2021).
Para peserta dilatih selama seminggu untuk menjadi trainer dengan materi pemanfaatan Microsoft Teams 365, mengingat Kemendikbud bekerja sama dengan Microsoft. Tak terkecuali, 35 orang yang terdiri dari kepala sekolah dan pengawas dari Surabaya.
"Pulang di Surabaya kami panggil 35 orang itu untuk diskusi dan melakukan Training of Trainer (TOT). Calon calon trainer dan berkembang menjadi 45 orang. Supaya Surabaya bisa maju bersama sama. Mengalirkan ilmunya dengan luas," tuturnya.
Setelah itu, lanjut Mamik, pihaknya merancang diseminasi dengan menggelar pelatihan di 5 wilayah kota surabaya. Pelatihnya adalah Lulusan LPPKS dan TOT. Pesertanya seluruh Kepala Sekolah SD SMP Negeri dan Swasta se Kota Surabaya di masing masing wilayah. Materinya yakni pemanfaatan Microsoft Teams 365.
"Training setiap Sabtu Minggu sampai satu bulan. Karena Senin sampai Jumat harus mengimplementasikan di sekolah masing masing. Diseminasi bulan Januari sampai Februari. Merancang materi Desember 2019 sampai Januari 2020. Kegiatan tersebut selama satu bulan Sabtu Minggu. Pagi sampai jam 5 sore," jelasnya.
Dari diseminasi itu menghasilkan Rencana Tindak Lanjut. Ada beberapa tugas yang berkaitan dengan implementasi selama 2 minggu. Kondisi itu bersamaan dengan turunnya surat edaran tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka 14 Maret 2020 lalu.
Saat itu, Dinas Pendidikan mengumpulkan langsung para kepala sekolah. Dalam waktu singkat, para operator yang sudah dilatih dilakukan pemantapan pembelajaran daring satu hari selama bertahap. Untuk dibuatkan seluruh akun siswa, guru, pengawas, dan penilik.
"Dengan adanya pelatihan seperti itu, pandemi tiba tiba datang, alhamdulillah Surabaya sudah siap. Lewat pelatihan akhirnya muncul Learning Management System terkait dengan pembelajaran daring. Saya sudah merancang bagaimana aplikasi ini bisa dimanfaatkan. Saat itu tidak terbayang kalau akan pembelajaran daring," bebernya.
"Saya manfaatkan untuk mensupervisi kelas melalui perangkat komputer atau gadget. Di satu sisi ketika diseminasi bulan Februari awalnya pakai akun Kemendikbud karena kerja sama dengan pihak Microsoft," imbuhnya.
Ada kendala yang sering ditemui oleh guru ketika mengakses Learning Management System. Salah satunya adalah lupa akun dan password. Sehingga ,Dispendik Surabaya kemudian minta izin kepada Kemendikbud untuk bekerja sama dengan microsoft. Supaya memudahkan eksekusi dan mengembangkan sistem tersebut.
"Kemudian Pihak Kominfo bersama Dispendik bekerja sama dengan Microsoft lahirlah domain dispendiksurabaya.go.id. Meski pada saat pelatihan LPPKS, sebagian masih menggunakan domain kemendikbud.Kami sudah menyiapkan domain Dispendik Surabaya," ungkapnya.
"Karena begitu sudah lepas dari pelatihan kami sudah tidak perlu tergantung ke Kemendikbud. Sudah punya sendiri Sehingga kalau ada apa apa mudah. Kami punya ruangan pembelajaran sendiri," sambungnya.
Akun akun tersebut dipakai untuk login ke Learning Management System Teams 365 domain Dispendik.Surabaya. Go.Id. Langkah itu membuat Surabaya paling siap mengawal pembelajaran daring.
"Meski satu tahun pandemi Dispendik Surabaya tidak berani mewajibkan learning management system. Walaupun gratis dan tidak terbatas karena sudah disupport domain government Pemkot Surabaya. Ada siswa memiliki kategori yang berbeda beda," tuturnya.
Mamik, memaparkan, ada anak yang betul betul mampu melakukan pembelajaran daring penuh serta tidak ada hambatan. Tapi, ada juga anak dengan keterbatasan daya dukung pembelajaran daring. Seperti, smartphone yang digunakan hanya dimiliki oleh orang tuanya untuk bekerja serta pemakaian gadget untuk belajar daring, harus bergantian.
"Maka strateginya tiga plus satu. Jadi anak yang bisa melakukan pembelajaran daring secara penuh harus mengirimkan materi dan tugas dalam bentuk link, kepada anak dengan keterbatasan smartphone. Pengerjaannya ketika orang tuanya pulang dari kerja. Waktunya diperpanjang atau disesuaikan dengan kondisi di rumahnya," ungkapnya.
Kalau ada anak yang sama sekali tidak mempunyai ponsel pintar, maka tugas dan materi harus dicetak tiap hari. Guru menyediakan waktu kepada muridnya untuk dikerjakan dan dikumpulkan. Tugas Bisa diambil di sekolah.
"Para guru sudah menyiapkan tugas tugas kepada para murid. Jadi anak yang tidak bisa daring tetap bisa dilayani. Plus satu itu untuk anak berkebutuhan khusus bisa. Materi dan penugasan disesuaikan dengan kekhususan mereka," terangnya.
Meskipun jarak jauh, kualitas pendidikan tetap terjaga. Mamik bisa mengetahui tugas tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa. Mamik juga tahu aktivitas siswa dan progres perkembangannya. Baik sekolah negeri dan swasta. Jadi, Surabaya benar berada dalam genggaman.
Disinggung soal pembelajaran tatap muka Juli nanti, Mamik menyebut, pihaknya telah menyiapkan Blended Learning System. Mekanismenya, para guru bisa belajar dalam waktu yang sama dengan dua tempat yang berbeda.
"Satu tahun tidak terasa siswa baru mau naik kelas. Mereka pasti ingin ketemu dengan gurunya langsung. Mereka juga rindu belum pernah menginjakkan kaki. Maka, Juli nanti akan ada pembelajaran tatap muka dengan terbatas dan tetap prokkes yang ketat. Kalau memang ortu tidak mengizinkan karena komorbid tidak apa apa. Bulan juli Pemkot Surabaya tetap melayani dua metode. Tatap muka dan daring, karena kapasitasnya maksimal 50 persen," katanya
"Dengan guru yang divaksin semua. Dispendik Surabaya, bisa jalankan tatap muka sesuai dengan aturan pusat. Semuanya tetap sehat dan melayani tatap muka. Untuk Surabaya strategi Blended Learning Plus. Satu kelas ada tatap muka dan daring. Guru tetap mengaktifkan Microsoft Teams 365. Di waktu yang sama, guru satu bisa mengajar di tempat yang berbeda ini sudah kami rancang dan sudah diuji oleh Tri Rismaharini, Wali Kota sebelumnya," tandasnya. (Ard)