05 April 2025

Get In Touch

Sekolah Tatap Muka, Antara Kerinduan dan Urgensitas

PTM di sebuah sekolah di Malang. Foto : istimewa
PTM di sebuah sekolah di Malang. Foto : istimewa

MALANG, (Lenteratoday) - Senin, ()19/4/2021) sehubungan dengan surat edaran diberlakukannya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka, melalui Surat Edaran Walikota Malang nomor 15 tahun 2021, beberapa sekolah mulai melaksanakan KBM pagi ini. Walikota Malang, Drs. Sutiaji, juga ikut meninjau pelaksanaan proses KBM di beberapa sekolah. Ini merupakan minggu-minggu percobaan KBM yang nantinya akan menjadi acuan pada Juni mendatang.

Berdasarkan keterangannya pada rapat peningkatan ekonomi Malang Raya 9/4 lalu, Drs.Sutiaji sempat menyinggung perihal kegiatan belajar mengajar yang akan dilaksanakan Juni. Meski tren covid 19 di Kota Malang menurun, namun ada banyak pertimbangan yang lepas dari pelaksanaan belajar tatap muka ini. Pelaksanaan KBM tatap muka bukan hanya sekedar mampu tidaknya sekolah menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes), namun bagaimana mendeteksi penyebaran virus dan penanganan negara terhadap wabah juga patut jadi pertimbangan.

Bhakti Luhur, salah satu Sekolah dan Asrama Luar Biasa yang terdeteksi positif virus covid19. Ada 26 siswa disabilitas dari 50 siswa yang terkonfirmasi positif covid 19 pada Maret lalu. Meski sudah menerapkan Prokes, namun penyebaran virus covid 19 masih terjadi di lingkungan sekolah ini.

Penanganan siswa disabilitas memang membutuhkan perhatian ekstra. Kepala Sekolah Bhakti Luhur Sr. Yohana Fransiska Mai Muri, ALMA, menjelaskan, anak-anak yang terjangkit covid19 sempat dirujuk ke Rumah Sakit, akan tetapi Rumah Sakit menolak. “Kapan hari pernah kita rujuk ke Rumah Sakit, tapi memang penanganan anak disabilitas ini kan berbeda ya, maka tidak semua orang bisa, jadi ya pihak rumah sakit menolak,” ujarnya saat dihubungi via telepon.

“Kita kan gabung dengan asrama, jadi ya sementara ini sekolah belum aktif lagi, dan anak disabilitas yang tinggal di asrama dan kena covid kita rawat secara mandiri,” lanjut Sr. Yohana begitu ia akrab dipanggil. Ia mengaku, suster yang tinggal di asrama juga ada yang terkonfirmasi covid19. Akibatnya, suster-suster dengan positif covid itulah yang akhirnya merawat anak-anak disabilitas yang terjangkit covid di asrama.

Ada 319 anak yang tercatat bersekolah di SLB Bhakti Luhur. Jika penerapan kegiatan belajar mengajar tatap muka menggunakan sistem 50 persentasi siswa masuk, jadi ada sekitar 150-an anak yang harus berjibaku melaksanakan kegiatan sekolah, di tengah meningkatnya angka korban kasus covid19.

“Semua merindukan itu (KBM tatap muka),” kata Sr. Yohana. Namun, saat ini ia dan suster yang lain harus melawan virus mematikan tersebut sebelum KBM benar-benar dimulai. “Ada 190an orang di asrama yang positif covid,” terang Sr. Yohana pada lenteratoday.

Tak berkaca dari Bhakti Luhur, Pemerintah Kota laksanakan percobaan KBM tatap muka tanpa ada swab serentak pada pelajar. Sekolah-sekolah yang menjadi tempat percobaan hanya terapkan jaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan untuk menghindari penyebaran covid 19. (ree)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.