03 April 2025

Get In Touch

Karsi Nerro, ‘Setengah Gila’ Demi Kelestarian Telaga Buret

Karsi Nerro, ‘Setengah Gila’ Demi Kelestarian Telaga Buret

“Jagalah alam, maka alam akan merawatmu,” ujar Karsi Nerro, peraihKalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan asal Tulungagung. Akibat ‘kegilaannya’menanam pohon di sekitar Telaga Buret yang rusak oleh pembalakan liar, kiniwarga di 4 desa sekitarnya tak pernah merasakan paceklik.

Tinggal di Desa Sawo, Campur Darat, Tulungagung membuatKarsi muda sangat dekat dengan alam. Apalagi tak jauh dari rumahnya ada TelagaBuret yang menjadi sumber air bersih warga sekitar. Pohon-pohon yang tumbuhrapat menciptakan hutan yang menjadi habitat monyet, rusa dan berbagai binatanglainnya.

Sayangnya keasrian itu hanya bisa dinikmati Karsi sebentarsaja. Sebab sekitar tahun 90-an saat dia duduk di bangku SMP, berlahan tapipasti lingkungan di sekitar Telaga Buret rusak oleh ulah manusia. “Saat itupencurian kayu sangat marak. Debit air di Telaga Buret pun berkurang.Binatang-binatang juga menghilang. Ada yang diburu, ada yang lari ke hutan. Belumlagi aktivitas perajin marmer yang juga memanfaatkan air dari telaga dilakukantanpa aturan sehingga menambah kerusakan lingkungan,” katanya.

Karsi yang saat itu masih usia belasan tahun mengaku resahdengan kondisi tersebut. Namun sebagai remaja dia belum tahu apa yang harusdikerjakan. Langkah-langkah kecil tetap dilakukan oleh Karsi dan teman-temanpecinta alamnya. Saat libur sekolah dia bersama beberapa temannya pergi kepasar buah di Kota Tulungagung untuk mengumpulkan biji-bijian. Setelahterkumpul, dibawa ke sekitar Telaga Buret untuk disebar. “Saat itu dipikirankita, yang penting disebar. Kalau tumbuh ya syukur kalau tidak ya cari lagi,”katanya. Secara massif mereka pun melakukan penghijauan, meski banyak orangsekitar yang mencibir dan menyebut Karsi dan teman-temannya ‘gila’.

Dikatakannya, perusakan ekosistem di Telaga Buret jugaterjadi akibat kemajuan jaman yang menghilangkan rasa hormat penduduk terhadaptempat yang disakralkan. “Dulu Telaga Buret ini dianggap sebagai tempatspiritual, sehingga kesan mistis dan aturan adatnya masih dipegang teguh. Misalkalau menebang pohon di sini bisa kena musibah. Tapi seiring kemajuan jaman,aturan-aturan itu sudah luntur dan tidak diyakini,” katanya.

Tak mau berpangku tangan, Karsi pun terus mencari tahumengenai cara melindungi Telaga Buret. Hingga suatu saat ketika diskusi denganbeberapa pemangku kepentingan dia mengerti bila telaga masuk dalam aturanKawasan Perlindungan Setempat (KPS). “Saat saya dewasa saya mulai paham KPS,itu semacam hutan lindung yang mana wilayah dalam radius 250 meter tidak bolehdiganggu. Daris situ kami dalam  tandakutip mulai menakut-nakuti penebang liar dengan aturan tersebut,” katanya.

Tak hanya mengembalikan pohon-pohon di hutan, salah satuperjuangan terberatnya adalah mengembalikan binatang-binatang agar ada disekitar Telaga Buret lagi. Butuh waktu selama 9 tahun, Karsi bersamateman-temannya membawa kembali monyet yang sempat hilang dari habitat TelagaBuret. “Setiap hari kami menyebar kacang dan pisang. Awalnya di tengah hutanyang jauh dari Telaga Buret, tiap hari maju beberapa meter mendekati telaga.Alhamdulillah sekarang monyet-monyet sudah kembali ke Telaga Buret,” katanya.

Tak hanya itu, kini pihaknya juga sudah memetakan zona manayang digunakan untuk melindungi air sehingga benar-benar tidak boleh dilakukanpenebangan pohon dan penggalian batu. Ada juga zona yang bisa digunakan untukpenggalian batu dan pemrosesan marmer. “Kini 700 hektar sawah di desa Sawo,Gedangan, Gamping dan Ngentrong dialiari air dari Telaga Buret. Petani bisapanen 2 kali setahun, bahkan ada yang sampai 3 kali,” katanya.

Melihat hasil nyata tersebut, warga sekitar dan Pemkab Tulungagung pun meningkatkan kepeduliannya terhadap Telaga Buret. Mulai tahun 2003 mulai ada bantuan benih dan berbagai kegiatan reboisasi. Di Tahun 2012, Karsi mulai mendapat penghargaan juara 1, penggiat lingkungan di tingkat kabupaten dan provinsi. “Tahun 2014 mulai masuk penghargaan nasional, meski baru nominasi 10 besar. Dan tahun 2018 saya mewakili Hampar mendapatkan Kalpataru,” katanya.Bagi dia dan teman-teman pecinta lingkungan, penghargaan bukan tujuan utama. Sebab, yang menjadi harapan besarnya adalah terjaganya lingkungan bagi anak cucunya nanti. (dya,ist)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.