
Blitar - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghimbau pada seluruh bupati/walikota, untuk waspada terhadap indikasi masuknya penyakit Pneumonia akibat Novel Coronavirus atau virus Corona.
Sesuai Surat Edaran dari Kementrian Kesehatan meminta pada seluruh rumah sakit umum dan daerah, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus penyebab penyakit Radang Paru atau Pneumonia tersebut.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Kesehatan menindaklanjuti himbauan tersebut, dengan membuat Surat Edaran kepada layanan kesehatan, baik Puskesmas maupun swasta. "Adapun isi edarannya agar mensosialisasikan pada masyarakat apabila ditemukan pasien dengan gejala batuk, pilek dan demam tinggi segera mungkin dilaporkan Dinkes," tutur Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Krisna Yekti.
Dijelaskannya jika ditemukan orang dengan gejala tersebut, Puskesmas akan melakukan surveilen agar secepatnya bisa mendapat melakukan pencegahan agar tidak menular. "Diantara tanda-tanda Virus Corona, seperti pilek dan infeksi saluran pencernaan. Adapun perbedaan dengan flu biasa, yakni saat gangguan saluran pernafasan biasanya sampai sesak nafas dan tidak bisa bernafas," jelas Krisna.
Ditegaskan Krisn jika Virus Corona asal China ini juga mengancam wilayah Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Blitar. Sehingga kewaspadaan, tetap harus dilakukan terutama kepada seluruh masyarakat. "Puskesmas dianjurkan mensosialisasikan kepada masyarakat, mengingat puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Sehingga masyarakat secepatnya mengetahui tanda-tandanya," tegasnya.
Krisna menambahkan kewaspadaan masyarakat bisa dilakukan dengan tidak mendekati hewan, utamanya unggas saat terkena gejala tanda-tanda Virus Corona. Mengingat yang bisa dilakukan masih pencegahan, karena belum ada obatnya pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, beberapa pekan ini telah terjadi peningkatan kasus Pneumonia yang berawal dari Wuhan, Tiongkok dan menyebar ke beberapa negara di sekitar, termasuk di Singapura dan Thailand. Menurut laporan WHO sampai tanggal 23 Januari 2020 ada 314 penderita dengan jumlah kematian sebanyak 6 orang. Sebagian besar yang meninggal, memiliki penyakit penyerta yang memperberat sakitnya.(ais)