
Jakarta - MantanMenteri BUMN Dahlan Iskan yang juga pernah menjabat sebagai Dirut PLNmemberikan pesan menggelitik. Melalui catatan di laman pribadinya, DI’s Way, diamenyoroti pohon sengon yang belakangan disebut sebagai biang kerok mati listrikmassal di Pulau Jawa yang terjadi Minggu (3/8).
Dahlan bahkan berpesan agar PLN dapat membuat monumen daripohon sengon karena seluruh masyarakat dibuat susah akibat pohon yang sayangnyatak bisa berbicara tersebut. Simak catatan Dahlan Iskan dalam laman sepertidikutip letra.id,Rabu (7/8).
Sengon 1 Triliun
Dahlan Iskan, 7Agustus 2019
Sepele sekali.Kelihatannya. Hanya gara-gara satu pohon sengon. Listrik seluruh Jakarta padam.Juga Jabar. Dan sebagian Jateng. Minggu-Senin lalu.
Pohon sengonnya ada diDesa Malon. Nun jauh di Gunung Pati, 28 km selatan Semarang. Mati listriknyasampai Jakarta.
Maka pohon sengon ituperlu diabadikan. Fotonya. Untuk dipasang di seluruh kantor PLN. Sebagaimonumen. Yang harus diajarkan turun-temurun. Dari satu generasi ke generasiberikutnya.
Betapa mahalnya pohonsengon itu. Sampai membuat berjuta-juta orang menderita. Pun kereta bawahtanah. Yang masih baru. Ikut lumpuh. Penumpangnya harus dievakuasi. PresidenJokowi sampai marah karenanya.
Bahkan PLN sendirisampai harus mengeluarkan ganti rugi kepada konsumen. Nilainya sampai Rp 1triliun.
Satu pohon sengon. Disebuah desa. Mampu menggegerkan mayapada.
Pohon sengon itu tidaksalah. Tumbuhnya di dalam pagar penduduk. Tapi menjulang sangat tinggi.
Tinggi tiang SUTET itu40 meter. Tapi bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itusekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET.
Tapi sengon itu jugaberhak bertanya:
- Mengapa dibiarkantumbuh tinggi di situ?
- Mengapa tidak adayang tahu?
- Apakah tidak adalagi anggaran untuk patroli pohon?
- Mengapa adakebijakan anggaran ini --bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawahanggaran SDM?
- Mengapa SUTET itubegitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?
Itulah. Mengapa tidakboleh ada pohon dekat SUTET (Saluran Utama Tegangan Ekstra Tinggi). Jangankansampai nyenggol. Memasuki medan magnetnya pun sudah mengganggu. Bisakorsleting. Yang mengakibatkan arus listrik terhenti.
Mengapa yangkorsleting di selatan Semarang, padamnya di Jakarta dan Jabar?
Orang Jakarta itumakan listriknya paling besar. Apalagi ditambah daerah industri sekitarnya:Tangerang, Bogor, Bekasi, Karawang.
Padahal pembangkitlistrik terbesarnya ada di Jatim. Di Paiton.
Maka harus ada pengirimanlistrik dalam jumlah besar. Dari Jatim ke Jakarta. Sekitar 3000 MW. Tepatnyasaya sudah lupa.
Listrik sebesar ituhanya bisa dikirim lewat SUTET --yang tegangannya 500 kVA. Ibarat kirim air,selangnya harus sangat besar.
Kian tinggitegangannya kian luas medan magnetnya. Karena itu harus ada sempadan yanglebar. Di sepanjang jalur SUTET tidak boleh ada tanaman tinggi. Dalam istilahlistrik sempadan itu disebut ROW --Right of Way.
Dulu selalu adapatroli. Yang mengawasi ROW itu --apakah mulai ada gejala pohon yangmengganggu. Tidak harus tiap hari. Pohon tidak bisa mendadak tinggi.
Pertanyaannya: apakahanggaran patroli masih ada? Atau manajemen patrolinya yang lemah? Atau patroli sudahdilakukan, laporan sudah dibuat, tapi tidak ada anggaran penebangan pohon?
Sesederhana itu.
Tapi ada juga unsurnasib.
Jawa itu sebenarnyasudah aman. Biar pun sebagian besar pembangkitnya ada di Jatim. Di Jawa sudahpunya dua jalur SUTET. Jalur Utara (yang lewat Ungaran, Semarang itu) dan jalurtengah. Membentang dari ujung timur ke ujung barat Jawa.
Kalau pun ada gangguandi jalur utara seperti itu sebenarnya tidak ada masalah. Arus listriknya bisaotomatis pindah ke SUTET jalur tengah.
Pohon sengon itu bukansatu-satunya tersangka.
Memang nasib PLN lagiapes. Terutama Plt Dirutnya. Masih baru. Belum 24 jam.
Hari Minggu itu adaperbaikan SUTET jalur tengah. Di timur Tasikmalaya. SUTET-nya dimatikan. Denganpertimbangan sangat rasional: pada hari Minggu beban listrik di sekitar Jakartaturun drastis. Cukup dilayani jalur utara.
Sayang, kok sengon itubegitu jahatnya --bergoyang di hari Minggu itu.
SUTET Utara kenasengon. SUTET tengah lagi diperbaiki.
Akibat hilangnyapasokan dari dua SUTET tadi beban listrik kacau sekali.
Pembangkit-pembangkitlistrik di wilayah barat mati satu-persatu.
Terjadilah bencanaitu.
Kenapa begitu lama?Ini sudah menyangkut manajemen recovery. Hanya PLN yang tahu.
Ada pertanyaan kecil:ke mana pasukan 'Kopassus'-nya P2B? Yang dibentuk dulu itu? Yang bisamemelihara SUTET tanpa harus mematikan sistem itu?
Dibubarkan? Tidakditeruskan? Tidak cukup? Tidak dikembangkan? Tidak ada anggaran?
Saya masih ingat.Peresmian pasukan itu dilakukan besar-besaran. Di Monas. Dengan demo cara-caramemelihara SUTET. Tanpa mematikannya.
Memang sangatberisiko. Peralatannya khusus. Bajunya khusus. Kepandaiannya khusus. Karena itukita juluki 'Kopassus'-nya PLN.
Di PLN juga ada satu departemenkhusus: namanya P2B. Itulah yang mengatur seluruh sistem listrik di Jawa.Isinya orang-orang istimewa. Ahli-ahli listrik.
Saya menyebutnya'otak'-nya listrik. Lembaga itulah yang mengatur seluruh sistem di Jawa. Kadangsaya dikritik. Terlalu mengistimewakan P2B. Saya tidak peduli. Saya sudah biasamengistimewakan redaksi. Dalam seluruh organisasi surat kabar.
SUTET di bawah P2Bitu. Tapi P2B di bawah siapa?
Organisasi PLNsekarang sudah beda. Di Jawa ada tiga direksi. Direktur Jatim/Bali, DirekturJateng/DIY dan Direktur Jabar/DKI.
P2B bisa punya posisiyang tidak jelas --di bawah koordinasi direktur yang mana. Mungkin sudahdiatur. Orang luar seperti saya tidak bisa melihat.
P2B itu perlu terusberkoordinasi. Tiap tiga bulan mereka harus rapat. Untuk evaluasi perkembangansistem di Jawa.
Adakah rapat itu masihada? Atau sudah ditiadakan? Rapat-rapat P2B tidak boleh dianggap rapat biasa--yang bisa dihapus demi penghematan.
Demi laba.
Memang ironi: listrikitu baru diingat justru di saat ia mati. (*)