04 April 2025

Get In Touch

Kompleks Makam Ki Ageng Pengging Dijadikan Cagar Budaya

Kompleks Makam Ki Ageng Pengging Dijadikan Cagar Budaya

Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terusmemberikan perhatian serius pada situs atau bangunan peninggalan sejarah.Terbaru, Pemkot Surabaya melakukan renovasi pada kompleks makam Ki AgengPengging yang berada di Jalan ngaggel no 87 Surabaya.  Setidaknya ada 28 makam yang ada di dalamkompleks pemakaman yang memiliki luas sekitar 20x20 meter tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) KotaSurabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, untuk langkah awal, kompleks pemakamantersebut bakal ditetapkan dahulu sebagai cagar budaya. Pihaknya mengaku sudahbertemu dan berkoordinasi dengan ahli waris atau pemilik persil. "Baru maukita proses ke cagar budaya. Kami baru ketemu ahli warisnya, dan mereka setujuakan hal itu," kata Antiek, Senin (27/1/2020).

Namun demikian, kata Antiek, sebelum kompleks pemakaman ituditetapkan sebagai cagar budaya, Pemkot Surabaya membutuhkan berkas-berkassebagai pendukung. Makanya, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan ahli warisdan pakar sejarah. “Kalau dihibahkan, kan kita butuh berkas-berkas pendukunguntuk kemudian kita jadikan cagar budaya. Kita komunikasikan terus dengan pihakahli waris,” ujarnya.

Camat Wonokromo, Tomi Ardianto menyampaikan, awalnya WalikotaSurabaya Tri Rismaharini beberapa kali melewati Jalan Ngagel dan melihat adanyakompleks pemakaman. Kemudian, pihaknya mendapat instruksi untuk melakukansurvey dan mencari informasi ke lokasi tersebut. “Setelah kita survey bersamaIbu Lurah Ngagel dan bertemu dengan juru kunci makam, ternyata ada Makam KiAgeng Pengging di situ,” kata Tomi.

Di samping itu, kata Tomi, di kompleks pemakaman tersebutjuga terdapat 27 makam lain. Jika ditotal, ada 28 makam, 16 sudah tercatat dan12 belum. Makam tersebut, diduga masih ada keturunan atau hubungan dengan PrabuBrawijaya V dan para pengawal Kerajaan Majapahit. “Kondisinya waktu kitasurvey, pohonnya masih rimbun dan banyak dedaunan. Akhirnya kemudian kitalakukan kerja bakti bersama,” ungkapnya.

Untuk langkah selanjutnya, Pemkot Surabaya menggadakan rapatpertemuan dengan ahli waris atau pemilik persil bersama pakar sejarah. Darihasil pertemuan itu, Tomi menyebut, pihak keluarga atau ahli waris, menyambutbaik rencana pemkot menjadikan kompleks pemakaman itu sebagai cagar budaya.Bahkan, ahli waris juga siap menghibahkan persil tersebut kepada PemkotSurabaya.

“Pihak keluarga menyambut baik dan bersedia menghibahkan.Mereka juga menyetujui jika kompleks makam itu dijadikan cagar budaya. Inisudah proses berjalan renovasi, jadi beberapa mulai diperbaiki, seperti atapdan akses jalan,” jelasnya.

Mashuri adalah orang yang diberi mandat oleh ahli warissebagai juru kunci kompleks pemakaman tersebut. Selama 7 tahun, Mashuridipercaya untuk menjaga dan merawat kompleks pemakaman itu.

Menurutnya, dalam sejarah makam, nama-nama yang tertulis dibatu nisan adalah nama kiasan. Jika dalam istilah jawa pewayangan, disebut‘Samar’.

"Pengging adalah wilayah, nama sebenarnya Kebo Kenongo(Ayah dari Joko Tingkir). Sedangkan nama-nama di luar punden, adalahorang-orang pelindung kerajaan atau disebut juga prajurit,” pungkas Mashuri.(ard)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.