
Pekerjaan dan rutinitas harian tak hanya membuat capek tubuh, tapi juga hati. Nah untuk melepas rasa ‘gerah’ itu tidak ada salahnya mlipir sejenak ke Pantai Gemah di Tulungagung. Terbukanya akses menuju lokasi pasca tersambungnya Jalur Lintas Selatan (JLS), hingga berseliwerannya foto-foto di media sosial berhasil menjadikannya objek wisata yang viral.
Tujuh tahun lalu, saat Anda menyebutkan nama Pantai Gemah,mayoritas penduduk akan heran atau bahkan menggelengkan kepala. Ya…dulu pantaiyang terletak di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Tulungagung ini merupakanlokasi terisolasi. Jarang sekali masyarakat yang menginjakkan kaki di tempatini.
Pantai baru ramai saat ada pemberitaan korban tenggelam dipantai Selatan. Sebab rata-rata mayat korban akan ditemukan di pantai yangdikelilingi hutan belantara ini. Kegiatan lain yang dilakukan di Pannhtai Gemahdahulu dipakai warga untuk memasak garam.
Dulu, akses menuju lokasi ini juga sangat sulit. Jalan penuhdebu karena masih terbuat dari tanah, dengan rute mendaki sebuah bukit kecildan mayoritas yang melintas adalah kendaraan truk atau mobil gardan ganda.Walhasil, meski ada pantai masyarakat kala itu enggan untuk menikmatikeindahannya.
Namun hanya dalam waktu dua tahun, Pantai Gemah menjadidestinasi wisata paling ramai di Tulungagung. Kini hampir setiap hari danpuncaknya pada akhir pecan, pemuda-pemuda Desa Keboireng sibuk mengatur lalulintas di Pantai Gemah.
Ada pula yang melayani tiket wisatawan, serta mengaturkendaraan yang masuk area parkir, yang lain menjalankan usahanya di pantai ini.
“Kami seperti mimpi. Pantai Gemah benar-benar mengubah DesaKeboireng dengan sangat cepat,” ucap Purnomo, yang ditunjuk sebagai DivisiHumas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Gemah.
Dulunya, Desa Keboireng mayoritas penduduknya bekerjasebagai petani hutan.Menurut Purnomo, sulit membayangkan terobosan yang bisamengangkat ekonomi desa.Pantai Gemah dianggap sebagai tempat wingit atau angker,yang hanya dipakai nenek moyang memasak garam.
Hingga akhirnya proyek Jalur Lintas Selatan (JLS) melewatiwilayah Desa Keboireng, tepatnya dari jalan Kecamatan di Desa Besuki hinggaPantai Klathak. Jalan ini berjarak sekitar 150 meter dari Pantai Gemah. Sekitartahun 2016 pengaspalan sudah sampai setengah dari bentang jalan.“Ujung aspalnyasaat itu ada di atas gunung. Dari puncaknya bisa melihat ke arah pantai,pemandangannya indah,” ujarnya.
Saat itu banyak wisatawan yang datang ke ujung aspal JLS inihanya untuk menikmati pemandangan. Bahkan saat Sabtu, jalan jadi macet karenasaking tingginya antusias wisatawan.Di lokasi ini juga muncul banyak warung.
Saat itu warga Desa Keboireng membaca peluang dan mulai mengadakan diskusi kecil untuk menggarap Pantai Gemah. Mereka yakin pantai ini akan ramai dikunjungi wisatawan, jika JLS terhubung ke Pantai Klathak.Mereka pun mulai bersih-bersih Pantai Gemah, dan membuka semak belukar yang menutupi.

“Tahun 2013 Dinas Kelautan dan Perikanan sudah merintismenanam cemara udang. Kami tinggal meneruskan itu,” tuturnya. Ketika itu wargamempersiapkan fasilitas wisata ala kadarnya, seperti kamar kecil dan tempatpakir.
Awalnya mereka bergerak dengan dikuatkan dengan Peraturandesa (Perdes). Pertengahan 2016 JLS tembus hingga Pantai Klathak, sekaligusterbuka isolasi Pantai Gemah yang dilalui.
Seperti yang diperkirakan warga, wisatawan membludak kePantai Gemah setelah adanya JLS.Dengan cepat warga berkonsultasi untukmembentuk Pokdarwis
Karena cepatnya pertumbuhan wisata di Pantai Gemah,Pokdarwis baru ini ditawari Perjanjian Kerja Sama pada 1 Januari2017.Perjanjian ini bersifat sementara dan berlaku selama 6 bulan, melibatkanPemdes Keboireng, Perhutani, Pemkab Tulungagung dan LMDH.
Karena dianggap sukses mengelola Pantai Gemah, Pokdarwisditawari perjanjian lanjutan.“Kami tidak menyangka bisa secepat ini. Istilahnya fasilitasyang kami sediakan masih terbatas, tapi wisatawan sudah demikian banyaknya,”ujar Purnomo.
Diakui Purnomo, pesatnya perkembangan wisata Pantai Gemahtidak lepas dari media sosial.Anggota Pokdarwis saat itu aktif mengunggahfoto-foto keindahan Pantai Gemah lewat media sosial. Namun, mereka juga sangatterbantu oleh wisatawan yang aktif berbagi keindahan Gemah.Lewat media sosialGemah semakin dikenal dan menjadi tujuan wisata favorit di Tulungagung.
“Sebenarnya pantai kami sama saja denga pantai-pantai lain.Yang membedakan Gemah sangat mudah dan dekat dijangkau dengan kendaraan apapun,” katanya.
Salah satu penunjang promosi Gemah adalah sinyal internetyang menjangkau pantai ini.Sayangnya sinyal yang masuk hanya milik Telkomsel,itu pun dari tower yang ada di Pantai Popoh.Jika dalam kondisi sangat ramai,internet di Pantai Gemah sangat lambat.“Kendalanya yang tidak pakai Telkomseltidak bisa mengakses internet. Kalau provider lain bisa masuk, Gemah akansemakin semarak,” tambah Purnomo.
Pantai Gemah membawa perubahan ekonomi di masyarakat DesaKeboireng.Diperkirakan saat ini sepertiga penduduk Keboireng mempunyai kegiatanekonomi di Pantai Gemah.Mulai dari menyewakan tikar, membuka warung, menyewakanATV dan trail, atau menjadi pekerja di Pantai Gemah.Jumlah perambah hutan danpenambang batu yang bisa merusak alam pun turun drastis.
Selain itu, banyak pemuda yang merantau memilih pulang danmembuka usaha di Pantai Gemah.Pantai ini sudah menjadi sumber kehidupan, wargapun menjaga Gemah dengan sepenuh hati.“Kami masih menghadapi masalah sampahyang terbawa ombak. Karena itu setiap Jumat kami bersih-bersih, kalau musimhujan setiap hari kami bersihkan,” ungkap Purnomo.
Pengunjung Pantai Gemah setiap hari rata-rata 500-1.000orang.Saat akhir pekan jumlahnya mencapai 7.000-10.000 wisatawan.Jika liburpanjang seperti Idul Fitri atau Tahun Baru, pengunjung Pantai Gemah bisa tembus15.000 orang. Karena tingginya kunjungan wisatawan, pengelola bekerja samadengan kepolisian harus melakukan sistem buka tutup di pertigaan Besuki.
Untuk diketahui, tiket masuk untuk hari biasa Rp 5.000ditambah asuransi Rp 500 per orang.Untuk akhir pekan dan libur nasional tiketnaik Rp 7.500 plus asuransi Rp 500 per orang.Tarif parkir motor Rp 2.000,minibus Rp 5.000, bus dan Elf Rp 10.000. Sementara fasilitas yang disewakan diPantai Gemah, tarif flying fox Rp 20.000, ATV 250 CC Rp 100.000 per jam, ATV150 CC Rp 80.000 per jam dan mini trail Rp 60.000 per jam.(dya)