06 April 2025

Get In Touch

Diperlukan Desain Khusus untuk Penguatan Nilai Kebangsaan pada Kaum Milenial

Diperlukan Desain Khusus untuk Penguatan Nilai Kebangsaan pada Kaum Milenial

Surabaya – Penguatan nilai kebangsaan terhadap kaum milenialsaat ini menjadi tangan tersendiri. Sebab terjadi perbedaan generasi antarayang tua dengan yang milenial. Untuk itu, dibutuhkan desain penguatan nilaikebangsaan yang dekat dengan kaum milenial itu.

Hal itu disampaikan Prof Akh Muzakki, guru besar UniversitasIslam Negeri Sunan Ampel Surabaya dalam Sinergitas Nasional yangdiselenggarakan Komisi A DPRD Jatim, Sabtu (8/2/2020). Dia menandaskan bahwanilai kebangsaan yang pada kaum milenial tidak turun. “Karena belum pernahnaik, bagaimana turun,” katanya.

Dia menandaskan sejauh ini, kaum melenial belum menemukanpenguatan nilai kebangsaan. Sebab mereka ada kencenderungan berbeda dengangenerasi tua. “Tugas kita adalah mendesain pengembangan nilai kebangsaan yangbaik untuk anak milenial dengan cara mereka,” tegasnya.

Prof Muzakki mencontohkan, yaitu dengan caranya yang dekatdengan kaum melenial, materinya juga dekat, dan bagaimana materi bisaditransmisikan dengan cara mereka. “Selama materinya dan cara menyampaianya, strategitransmisimanya itu tidak tepat dengan mereka, maka itu menadi awal lemahnyapenamaman nilai kebangsaan. Contohnya, anak anak itu tidak terlalu sukaindogtrinasi, sementara ideologi itu harus didogtrinkan,” katanya.

Untuk itu, upaya indogtrinasi yang bisa dilakukan adalahdengan factual dan berbasis fakta, kemudian yang kedua adalah dengan sesuatuyang dekat dengan mereka, karena kalau jauh maka bukan menjadi kebutuhan merekadan mereka menjadi tidak tertarik. “Anak anak sekarang tidak baca koran, merekamelaui youtube, dan juga tidak membaca buku, karena lebih tertarik dengan bacabuku online.

Untuk penerapannya, lanjut Prof Musakki, bisa dilakukan semuakalangan, mulai dari orang tua hingga anak muda. Tinggal pembekalan strategiuntuk dekat dengan anak anak. “Ini prinsip pendidkan jangan sampai mengajarkan sesuatuseakan akan itu kepentingan orang tua,” katanya.

Sementara itu, Imam Maksudi, Taprof Bidang Geopolitik danStrategi Lemhanas RI menjelaskan bahwa Pancasila mengandung lima nilaikebangsaan. Lima nilai itu yaitu nilai religious, nilai kekeluargaan, nilaikeselarasan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Nilai tersebut perupakankeutuhan yang  tidak dapat dipisahkan. Nilaitersebut menjadi wahana untuk menselaraskan dan memadukan segala bentukperbedaan yang ada.

“Tadi adalah lima nilai kebangsaan pada pancasila. Sekarang iniada tantangan yang harus dihadapi, tantangan itu yaitu radikalisme, dan terorisme.Kemudian ada juga tantangan lain yaitu egoism yang masih menggejala dibanyakaspek kehidupan bangsa. Kemudian disiplin nasional yang relatih rendah dankomitmen kebangsaan yang masih kurang mendapat kepedulian,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, I Putu Sastra Wingarta memberikanpandangan tentang hakikat ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dimana disintegrasiadalah ancaman untuk kepentingan strategis pertahanan Indonesia. (ufi)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.