05 April 2025

Get In Touch

Belajar Makna Hidup dari Kera Ngujang Kediri

Belajar Makna Hidup dari Kera Ngujang Kediri

Keberadaankera-kera di Ngujang,Tulungagung tak sekadar berbalut cerita mistis. Dari sisilingkungan dan budaya, mengajarkan agar manusia bisa hidup berdampingan danseimbang dengan makhluk lain.

Puluhan kera tampak berkeliaran di tepi jalanraya di sekitar jembatan Kali Brantas, Desa Ngujang, Kecamatan Ngantru,Tulungagung. Ada yang duduk-duduk di kerangka jembatan, ada pula yang tampakbersantai berkelompok di nisan-nisan makan yang ada di sebelah jembatan.

Lokasi ini tepat di sebelah selatan SungaiBrantas, yaitu di sisi utara Desa Ngujang. Di tempat tersebut, terdapat duamakam umum di sisi kiri dan kanan. Kedua makam itu saling berhadap-hadapan danhanya dipisah jalan raya.

Satu komplek pemakaman Pecinan atau China,satunya lagi makam Jawa. Dan di makan Jawa inilah, tempat hidup danberkumpulnya ratusan, bahkan ribuan kera, atau warga sekitar biasa menyebutnyalokasi Kethekan.

Bagi orang yang belum pernah memasuki kawasanini, kemungkinan besar agar langsung merinding dan takut melihat kera-kera yangberkeliaran. Belum lagi lokasinya di area makam yang tentu saja langsungmembawa suasana mistis.

“Tidak usah takut, kera-kera di sini jinak.Asal kita tidak menganggu, mereka juga tidak akan menyerang,” ujar Mbah Ribut,Juru Kunci kawasan Kethek’an Ngujang.

Diakuinya, kawasan ini memang kental dengansuasana mistis. Banyak pihak yang mengatakan kera di Ngujang adalah tempatngalap pesugihan. “Itu tidak benar. Banyak yang meyakini kalau kethek-kethekyang menghuni makam Ngujang, adalah perwujudan si pemuja pesugihan yang sudahmeninggal, termasuk wujud tumbal yang pernah dijadikan persembahan si pemujasemasa hidupnya. Singkat kata, kera-kera itu adalah mahkluk jadi-jadian aliasjelmaan siluman. Itu salah,” tegas Mbah Ribut.

Ada yang mengatakan populasi kera-kera itutidak bertambah maupun berkurang dari dulu. “Lha saya yang mengubur kalau adakera yang mati. Jadi yang benar di sini ini bukan kera-kera gaib, lha wong kitasemua bisa lihat. Yang benar adalah, kera-kera di sini dilindungi gaib,”tegasnya.

Menurut cerita, Desa Ngujang terbentuk daridua kata yaitu ‘Ngu’ dan ‘Jang’. Pada zaman pengembangan Islam di tanah Jawa.Sunan kalikaga sempat singgah di lokasi tersebut untuk memberikan wejangan kesantri-santrinya. Saat memberikan nasihat, terdengar suara-suara kera.“Nguk..Nguk...begitu suaranya. Jadi Ngu itu berasal dari suara kera, sementaraJang dari potongan istilan Wejangan,” jelas Mbah Ribut.

Saat Sunan Kalijaga memberikan wejangan, adadua santri yang malah masih asyik memanjat pohon. Dua bocah itupun ditegur.Katanya, "Nduk, le, kalian kok tidak ikut ngaji? Lihat teman-teman kaliansedang mengaji di pondok. Kalian kok malah memanjat pohon di sini, sepertikethek saja."

Menurut orang-orang kuno, khususnya orang-oranglinuweh (sakti) kata-katanya ibarat karomah. "Kedua santri itu, kononmenjadi monyet yang hidup di sekitar makam Desa Ngujang. Monyet yang seringterlihat di sekitar makam Ngujang itu, adalah keturunan dari dua santri yangdikutuk menjadi monyet,” katanya.

Diakui banyak versi cerita yang berkembang.Kisah lain adalah, kera-kera tersebut dilindungi hal gaib karena milik muridkesangan Sunan Kalijaga yaitu Eyang Sentono Renggo. Dia adalah sosok yang jugamelakukan babat alas di Ngujang, Tulungagung.

Karena dilindungi gaib, maka dianjurkanmasyarakat tidak menganggu kera-kera tersebut. Alkisah ada orang yang menembakmati kera di Ngujang dan akhirnya mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.Ada juga yang pernah mau menculik kera dan membawanya ke Surabaya. “Di tenahperjalanan anaknya mengalami kesurupan dan minta kera dikembalikan ke Ngujang.Setelah dikembalikan ya sembuh,” katanya.

Menurut Mbah Ribut ini meruapakan pelajaranagar manusia hidup berdampingan dan selaras dengan makhluk lainnya. Makanyasaat berkunjung ke lokasi Kethekan Ngujang, banyak oarng yang membawa oleh-olehuntuk kera, mulai dari kacang, roti dan makanan lainnya. Saat diberi makanan,kera-kera tersebut juga akan bergorombol dengan rapi tanpa berusaha merebut.Ada satu ekor kera terbesar duduk bak mengawasi kera-kera kecil yang mengambilmakanan dari pengunjung. Mbah Ribut pun memberikan telur mentah kepada kerabesar tersebut. “Dia suka telur mentah, ya bisa dianggap pemimpinnya lah,”katanya.

Sebagai juru kunci dia berharap ada perhatiandari pemerintah setempat untuk pelestarian kera-kera di Ngujang. “Saat pakbupati kami masih Pak Heru, tiga periode lalu ya, kami cukup diperhatikan. Adapenanaman pohon-pohon buah, dengan harapan menjadi sumber makanan kera-keraini. Ada juga kiriman pakan,” katanya. Tapi diakuinya dua periode ini tidak adalagi perhatian itu.

Menurutnya, bila ada pengembangan saranaprasarana, lokasi kethekan bisa menjadi destinasi wisata potensial. “Misal adamainan anak, tempat-tempat duduk. Seperti di Bali juga ada kan. Apalagi kera disini lebih jinak,” kata pria yang sudah 20 tahun jadi juru kunci ini.(*)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.