03 April 2025

Get In Touch

Candi Arimbi, Sang Dewi yang Terabai

Candi Arimbi, Sang Dewi yang Terabai

Terselip di antara padatnya rumah penduduk, Candi Arimbimerupakan candi satu-satunya di Kabupaten Jombang yang menyimpan banyak cerita.

Siapa sangka, disela-sela permukiman yangberjejer rapat di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kec. Bareng, Kab. Jombang adapeninggalan sejarah Majapahit, Candi Arimbi. Bangunan candi yang berada dilereng Gunung Anjasmoro itu konon merupakan pintu gerbang masuk kerajaanMajapahit yang berada di bagian Selatan. Namun ada beberapa sumber sejarah yangmenyebut candi tersebut hanyalah petilasan dari tentara Majapahit.

“Candi Arimbi merupakan situs candisatu-satunya di Kabupaten Jombang. Tak hanya itu, istimewanya lagi candi inidibangun dengan batu adesit, bukan batu bata merah seperti candi-candi di Mojokerto,”ujar Juru Pemelihara Candi, Sodim. Meski tetap ada batu bata merah yaitudibagian paling bawahnya saja.

Sekilas Candi Arimbi atau juga disebut CandiCungkup Pulo tidak jauh beda dengan sejumlah bangunan candi yang didirikan olehkerajaan Majapahit. Dari sejumlah sumber sejarah, candi yang memiliki luas  896,56 meter persegi dan tinggi 10 meter,lebar 6 meter dan panjang 8 meter itu merupakan representasi dari Prabu Tribuwana Wijaya Tungga Dewi.

Tribuwana Tunggadewi  sendiri merupakan Raja Majapahit yangmemerintah pada tahun 1328-1350 Masehi. Representasi Prabu Tribuwana Tunggadewiitu terukir dalam sebuah arca Purwati yang berada di pusat candi. Arca tersebut saat ini tidak berada di dalamcandi, tapi tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Nuansa agama Hindu sangatkental dengan adanya sejumlah arca yang berada di pelataran candi. Candi yangterbuat dari Batu Andesit itu secara jelas menampilkan ciri khas masyarakatpenganut agama Hindu.

Dengan berlatar belakan perkebunan masyarakat,Candi Arimbi menghadap ke barat. Hal itu terihat dari tangga masuk candi. NamaArimbi sendiri merupakan nama salah satu tokoh pewayangan Mahabarata yakni DewiArimbi yang merupakan istri dari Prabu Bima Sena atau Werkodoro, salah satuPendawa Lima.

Nama Dewi Arimbi ini juga dijadikan nama dusuntersebut. Konon, Dewi Arimbi yang merupakan adik dari Raja Raksasa Prabu Arimboini dimakamkan di salah satu tempat di dusun tersebut, sehingga nama dusun ini dinamakan sebagai Dusun Ngrimbi.

Sumber lain menyebutkan bahwa candi tersebutmerupakan petilasan tempat peristirahatan anggota kerajaan Majapahit. Pendapattersebut bisa jadi benar sebab, suasana yang sejuk di tempat tersebutmemberikan kenyamanan bagi anggota kerajaan ketika berada di lerang gunung.

ReliefPasangan Dalam Genthong

Hingga saat ini, Candi Arimbi masih kokohberdiri  meski belum pernah adapemugaran. Separuh lebih dari tubuh dan atap candi telah hancur, seolah teririssecara vertikal, namun bagian kaki masih dapat dikatakan utuh. Kaki canditampak seperti bersusun dua, terbagi oleh pelipit yang menonjol keluar. Bagiankaki yang terletak di atas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannyamenjadi kebih kecil dibandingkan dengan kaki bagian bawah. Antara kaki bagianatas dengan tubuh candi juga dibatasi oleh pelipit dengan hiasan yang menonjolkeluar di setiap sudutnya.

Tubuh candi juga lebih kecil dibandingkandengan bagian kakinya, sehingga terlihat seperti terdapat selasar yangmengelilinginya. Akan tetapi saat ini, sebagaimana halnya sebagian atap dantubuh candi, tangga naik ke selasar juga sudah runtuh, sehingga hanya selasardi sisi selatan yang dapat terlihat dari bawah.

Pada kaki bagian atas maupun dinding luartubuh candi yang masih tersisa tidak tampak adanya pahatan. Akan tetapi, diseputar kaki candi bagian bawah dipenuhi oleh jajaran panel-panel reliefcerita-cerita binatang. Relief yang dipahat dengan teknik datar (wayang style)yang sangat indah dan halus tersebut dapat dikatakan masih utuh. Untukmembacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam),dimulai dari sisi utara.

Pada dinding Candi Arimbi sisi utara terdapatterdapat 17 bidang relief. Salah satunya relief sepasang pengantin yang beradadi dalam gentong. Ada pula relief sepasang pria dan wanita. Pria sedangmencangkul, sedang yang wanita membawa payung.

Pada kaki sisi timur, juga dihiasi 17 bidangrelief cerita binatang dan kegiatan keagamaan. Sedangkan pada sisi selatanterdapat 8 buah bidang relief. Selain itu, terdapat ukiran relief sosokbinatang yang digambarkan berbeda-beda dan sangat menarik.

Sebagian besar posisi binatang itu digambarkanmenghadap ke kanan dan kiri secara bergantian. Namun ada juga yang sama arahhadapnya pada dua relief sela yang berdekatan. ”Memang seperti kelinci itubanyak muncul pada relief Candi Arimbi,” lanjutnya.

Di tepi halaman terdapat batu-batu reruntuhancandi yang disusun rapi memagari candi.”Dulu ada beberapa batu yang di bawapulang ke rumah warga. Sekarang sudah dikembalikan ke sini,” katanya.

Di sisi timur, tepat di depan candi berjajar 3potongan arca yang menarik perhatian karena ukurannya yang sangat besar. Tinggimasing-masing potongan sekitar 125 cm. Yang terletak di tengah jajaran adalahpotongan kepala arca raksasa, sedangkan di kiri dan kanannya terdapat potonganarca yang tampak seperti bagian dada sebatas leher.

“Kami membersihkan secara manual dengan sapulidi dan peralatan lain. Pada saat musim hujan, dilakukan tiap hari karenalumut cepat sekali tumbuh,” katanya.

Tapi di sisi lain, daya tarik Candi Arimbi seolah-olah tertutup oleh minimnya fasilitas pendukung. Dari lahan parkir saja, hanya muat satu mobil itupun tepat berada di halaman rumah penduduk. “Kanan kiri dan belakang semua lahan milik warga. Jadi sulit mengembangkan fasilitas. Pengunjunganya sedikit kalau dibanding lokasi wisata sekitar, hanya sekitar 100 orang/bulan,” ujarnya. (dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.