04 April 2025

Get In Touch

WBAE, Jujugan Edukreasi Sawah di Lamongan

WBAE, Jujugan Edukreasi Sawah di Lamongan

Desawisata makin menjamur di Jawa Timur. Salah satu yang viral adalah Wisata BesurAgro Edukasi (WBAE) di Desa Besur, Kec. Sekaran, Lamongan. Tak hanya memilikispot selfi instagramable, destinasi ini juga menjadi jujugan edukasi budidayapadi dengan sistem MTS (Manajemen Tanaman Sehat).

Liburan kok ke sawah! Eits jangan salah, sawah di Kabupaten Lamongan  ini dikemas kekinian. Namanya adalah Wisata Besur Agro Edukasi. Saat mengunjungi kawasan ini, Anda dapat dengan sempurna menikmati semilir angin serta alam yang masih sangat asri.

Gubuk di tengah hamparan tanaman padi yangdipagari bunga warna-warni menciptakan atmosfer khas pedesaan. Sementara,spot-spot foto serta green house tanaman labu memberikan sentuhan modern. Cukupmerogoh kocek Rp 2.000/orang, objek wisata yang dikelola oleh Badan Usaha MilikDesa (BUMDES) ini bisa dinikmati oleh masyarakat. 

"Areal wisata ini sebenarnya tanah desayang sebelumnya adalah sekolah pertanian, karena memang mayoritas dari kamiadalah petani," ujar Kepala Desa Besur, Abd. Harissuhud. “Dari sekolahpertanian kemudian muncul ide untuk menjadikannya wisata berbasis pertanian,sekalian untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang pertanian,”lanjutnya.

Keberadaan WBAE memang masih seumur jagung, meskidemikian pemerintah Provinsi Jatim telah melaksanakan acara  Gelar Teknologi Perlindungan Tanaman Pangandan Hortikultural tingkat nasional pada 30 Oktober 2018 di sini.

Pemilihan Desa Belur dikarenakan wilayah inimampu menggenjot produksi padi petani dengan sistem Manajemen Tanaman Sehat (MTS)alias non-kimia. “Jadi awal pembangunan infrastruktur desa wisata dan edukasidi Belur karena akan ada event nasional di sini. Kemudian berlanjut kamikembangkan untuk wisata edukasi bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Untuk diketahui, sejak tahun 2016 petani DesaBelur mulai melakukan reformasi sistem penanaman padi. Bila awalnya menggunakanbahan-bahan kimia untuk pupuknya, dengan sistem MTS maka petani didorongmenggunakan bahan non-kimia. 

"MTS yang diterapkan petani di sini dalammembasmi hama dan penyakit tumbuhan tak menggunakan pestisida. Petani hanyamemanfaatkan agen hayati. Bahkan, pupuk kimia yang digunakan pun takarannyasudah dikurangi. Petani lebih banyak menggunakan pupuk organik," katanya.

Menurut Haris--begitu sapaannya--, petani yangmengaplikasi MTS di lahan 100 ha terbukti produktivitas padinya cukup tinggi,dari 5-6 ton/ ha saat belum menggunakan MTS, bisa menjadi 7-8 ton/ha saat ini.Menariknya, Desa Besur yang semula endemi wereng batang coklat (WBC), setelahmenerapkan MTS hama WBC berkurang. Bahkan, pihaknya berhasil mengembangkanberas premium dari jepang, Japonicum Koshihikari dengan sistem ini.

Japonicum Koshihikari adalah salah satu jenisberas dari Jepang yang sangat populer di Negara Sakura. Karakter berasnya yangmanis dan lengket, sehingga menjadi pilihan favorit untuk membuat sushi.

"Petani juga memanfaatkan tanaman refugiasebagai tempat musuh alami WBC. Petani juga memanfaatkan burung hantu untukmengatasi hama tikus," ujarnya.

MTS yangdikembangkann 3 Poktan di Desa Besur sejak pertengahan 2016 lalu, kata Haris sudahdiaplikasi di sejumlah desa di Kec. Sekaran. Ia juga berharap, MTS di DesaBesur ini bisa diaplikasi petani lainnya di tanah air. Petani yang mengaplikasiMTS juga diharapkan bisa mandiri benih dan pupuk (kompos).

“Nah tanah kas desayang awalnya digunakan sebagai demontration plot (demplot) sawah penerapan MTS inilahyang dijadikan kawasan wisata edukatif bagi anak-anak sekolah dan tentunya spotselfi di era digital ini,” jelasnya.

Saat ini dari 4 Halahan yang ada baru sekitar 2 Ha yang dikembangan. Fasilitas yang ada saat iniselain taman bunga, sawah dan beberapa spot foto juga ada mushola, pendopopertemuan, beberapa gubug/saung, toilet, areal tanam padi  dan green house untuk pengembangan labu madu.

“Sudah banyak sekolahdi Lamongan yang melakukan edukasi di sini. Kalau wisatawan individu tak hanyadari Lamongan, tapi banyak juga dari kota sekitarnya seperti Tuban danBojonegoro. Bahkan ada study banding dari Jambi dan Kendari,” katanya. Diakuinya di era digital saat ini pengenalan objek wisata baru relatif lebihmudah karena foto/video yang diunggah di media sosial menjadi sarana promosiyang cepat dan tepat. “Untuk itu kami juga memiliki petugas khusus yangmengelola media sosial kami,” katanya. Secara total ada 15 orang pemuda DesaBesun yang merawat lokasi wisata ini.

Tahun ini dari danadesa pihaknya mengalokasikan anggaran khusus untuk terus mengembangkan WBAE.Fasilitas yang akan dibangun adalah Warung LA, lapangan futsal dan kolamedukasi. “Selain dana desa, kami juga dibantu oleh Pemkab Lamongan untukfasilitas parkir dan lain-lain,” jelasnya.

CaturPesona Sekaran

Terpisah, CamatSekaran, Yuli Wahyuono, SH, MM mengatakan desa wisata di Besur adalah salahsatu andalan wilayahnya dalam menggerakkan ekonomi kemasyarakatan. “Denganadanya objek wisata itu, pedagang mulai bermunculan di sekitar lokasi. Takhanya itu, pengelolaannya melibatkan pemuda desa. Sehingga otomatis membukalapangan pekerjaan baru,” katanya.

Desa Wisataberbasis sawah ini juga mengubah stigma masyarakat terkait pertaniantradisonal. Dimana petani hanya menanami sawah dan menghasilkan gabah. Dengansedikit sentuhan, menambah bunga-bunga dan spot foto, ternyata sawah juga bisamenjadi lokasi wisata yang diminati. “Produk warga pun akhirnya bisamendapatkan pasar. Di Besur produk yang dihasilkan antara lain pupuk organikcair, kompos dan dodol labu madu serta beras sehat,” katanya. Untuk beras sehatpihaknya sedang mengurus perijinan dengan label LA Rice.

Dijelaskan Yuli,sebenarnya di Kecamatan Sekaran yang memiliki 21 desa ada 4 desa wisata yangmasuk dalam Catur Pesona Desa Wisata Sekaran. Pertama adalah Desa Besur yangmemiliki WBAE, wisata edukasi berbasis sawah.

Selain itu ada jugaada Taman Ekspresi di Desa Kendal yang dilengkapi taman bermain, arena outbond,arena motor cross, lapangan bola dan taman baca. Ada juga Sanggar Seni DesaJugo yang memiliki lokasi workshop batik dan melukis. Dan terakhir Desa Sekaranyang mengembangkan wisata berbasis air yang diberi nama WIEKES (Wisata Edukasi KaliEmbung Sekaran).

“Untuk wisata airdilengkapi perahu-perahu manual yang dipedal, perahu naga dan tentunya adagazebo, pendopo pertemuan dan sentra kuliner,” katanya. Bahkan rencana jugaakan ada kolam renangnya.

Berbagai desawisata ini tak lengkap tanpa didukung oleh-oleh khas Lamongan. Selain wingkoyang sudah terkenal, di Kec. Sekaran ada Ikan Togek Asap, Mie Lidi dan  dodol labu madu. Ke depan juga akandikembangkan gipang dari beras merah dan hitam yang menjadi andalan Desa Besur.(*)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.