06 April 2025

Get In Touch

Terdapat 1 Juta Pengguna Narkoba di 2 Kota di Jatim

AKBP Totok Sumarianto, SIK (baju putih) saat menerima cinderamata dalam acara bintek penanggulangan narkoba.
AKBP Totok Sumarianto, SIK (baju putih) saat menerima cinderamata dalam acara bintek penanggulangan narkoba.

SURABAYA (Lenteratoday) - Pengguna narkoba di Jawa Timur ternyata cukup tinggi. Dari data yang dibongkar dalam acara teknis (Bimtek) untuk menjadi penjangkau korban Napza yang digelar oleh Rumah Rehabilitasi (Ruhab) Grha Nayopaya, di Hotel Istana Permata, Jalan Ngagel Jaya, 20 Surabaya, Sabtu (20/11/2021), ditemukan satu juta pengguna narkoba hanya di dua kota saja.

Drs Siswanto, Kanselor di Grha Nayopaya dan pemilik rumah rehabilitasi mandiri di Gresik, yang menjadi pemateri dalam acara tersebut mengaku prihatin dengan kondisi bangsa ini, termasuk dengan kondisi peredaran narkoba di Jatim. Dia setuju ungkapan Presiden Jokowi bahwa Indonesia Darurat Narkoba.

"Tapi sejauh ini memang kita belum melihat tindak lanjut secara massif apa yang disebut darurat Narkoba ini. Ada UU no 35 tahun 2009 dan Inpres No 2 tahun 2020, nyatanya belum ada PP soal darurat Narkoba," ujar Profesor asal Ohio Jepang ini dalam acara yang digelar oleh Personel Gerakan Indonesia Anti Narkotika (GIAN) Kota Surabaya, bersama elemen relawan Gotong Royong.

Pria yang menyerahkan resmi gelar Profesor nya ini, menegaskan bahwa Indonesia sangat empuk jadi sasaran perdagangan Narkoba Internasional, karena pasarnya besar. Modus pintu masuk barang ilegal ini pun sangat banyak. Ratusan jalan tikus perbatasan Malaysia, pelabuhan kecil dan ilegal di ribuan pulau Indonesia jadi sarana masuk.

Cukup wajar Indonesia darurat Narkoba, bahkan tidak hanya jumlah narkoba tinggi, angka kematian juga tinggi. Setidaknya setiap hari 60-70 orang mati karena memakai narkoba.
Ironisnya, data prevalensi menyatakan mereka ini mayoritas di usia produktif

Dalam penelitian BNN, korban Narkoba di Jawa Timur mencapai satu juta orang. Itupun baru dilakukan survei di dua kota saja, atau setara 2,40 persen. Belum diketahui ketika 38 daerah digabung.

Sementara itu, Suyud Puguh Sunoto, S.Psi, asesor dari BNN Provinsi Jatim, yang juga jadi pemateri menceritakan pembongkaran pengiriman narkoba sebanyak 2 ton. Mirisnya, angka 2 ton itu baru 10 persen dari yang lolos tangkapan aparat.

Kata Suyud, produksi Narkotika selain dari pasar gelap Internasional juga ternyata ada di Indonesia sendiri. Semisal penggerebekan oleh Polres di Lumajang, di Surabaya termasuk oleh BNN Provinsi saat menangkap bahan narkoba dari bus mini dari Sumatera di tol Warugunung Sidoarjo.

Berbagai pertanyaan mengalir dari peserta terkait komitmen aparat dalam memerangi Narkoba. Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Totok Sumarianto, SIK, dari Kanit Penyidik Direskoba Polda Jatim mengaku bahwa komitmen Polri sangat kuat.

Jika ada oknum yang bermain dengan bandar atau dengan pengedar tentunya di era sekarang ini sudah harus menghadapi proses pengadilan dan ancaman dipecat. "Polri sangat komitmen untuk pemberantasan Narkoba. Kita tidak main main. Kalau pun ada oknum saat ini sudah tidak berani. Karena jika ketahuan akan langsung dipecat, dan diproses hukum," ujarnya.

Sigit Nugroho, Ketua Yayasan Grha Nayopaya, mengatakan bahwa bimtek kali ini sebagai langkah awal sebelum penanganan korban Narkoba di rumah rehabilitasi dioperasionalkan.

"Setelah Bimtek ini, penjangkau terutama GIAN Surabaya sudah bisa melakukan pendekatan para korban Narkoba untuk direhabilitasi di Grha Nayopaya. Kita kerjasamanya dengan GIAN," ujar Sigit.

Namun, untuk penjangkau Grha Nayopaya tidak menutup diri akan menggandeng elemen lain termasuk relawan Gotong Royong yang sudah gabung. Mereka ini diakui sudah malang melintang di dunia penanganan korban narkoba di Surabaya. Bahkan sering berhadapan dengan berbagai masalah di lapangan bersama Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur, dan Satuan Reserse Narkoba Surabaya. (*)

Sumber : Rilis

Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.