Tayang Hari ini, Intip Sinopsis ‘Bumi Manusia’ Yuk!

Film Bumi Manusia garapan rumah produksi Falcon Pictures yang diadaptasi dari novel berjudul sama, mulai tayang pada hari ini, Kamis (15/8). Film yang diarahkan oleh sutradara Hanung Bramantyo dan penulis skenario Salman Aristo tersebut mengisahkan dua anak manusia yang meramu cinta pada zaman kolonial awal abad ke-20.

Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah anak pribumi yang diperbolehkan bersekolah di HBS. HBS merupakan sekolah untuk orang-orang Eropa, khususnya Belanda. Sementara itu, orang-orang Indonesia yang boleh bersekolah di HBS hanyalah mereka yang berasal dari kalangan ningrat atau pejabat. Minke memiliki pemikiran yang revolusioner.

Hal itu membuatnya disegani oleh teman-teman Belanda-nya. Pada suatu hari, Minke jatuh hati kepada anak Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), Annelies (Mawar Eva de Jongh). Nyai Ontosoroh merupakan istri simpanan seorang Belanda bernama Herman Mellema. Baca juga: Digunakan Syuting Bumi Manusia, Ini 5 Fakta soal Desa Wisata Gamplong Artis peran Iqbaal Ramadhan (kiri) berperan sebagai Minke dan Mawar de Jongh sebagai Anelis menjalain shooting film Bumi Manusia di bawah arahan sutradara Hanung Bramantyo.

Statusnya sebagai istri simpanan membuat Nyai Ontosoroh dikucilkan dan dianggap perempuan tidak terhormat oleh masyarakat. Namun, hal itu tidak membuat Nyai Ontosoroh bungkam. Ia terus melawan cemoohan dan pandangan buruk dari masyarakat. Ayah Minke yang seorang bupati tidak suka Minke dekat dengan Nyai karena status Nyai dianggap rendah. Sebaliknya, Minke mengagumi pemikiran dan perjuangan melawan hagemoni bangsa kolonial.

 Polemik muncul saat kebahagiaan Minke dan Annelies ingin direnggut oleh hukum bangsa kolonial. Film berdurasi 181 menit tersebut dibintangi Iqbaal Ramadhan (Minke), Mawar Eva de Jongh (Annelies), Jerome Kurniawan (Robert Suurhof), Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh), Bryan Domani (Jan Dapperste alias Panji Darman), dan lainnya.

Penghormatan Pada Pramoedya

Film ini merupakan hasil alihwahana novel ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer.Sejak wacana alih wahana tersebut santer terdengar, berbagai kontroversi bermunculan. Banyak yang tidak setuju novel itu dibuat versi film.

Alasannya beragam, mulai dari anggapan bahwa film tak mungkin mampu memvisualisasikan penuh apa yang ada di kepala Pram dalam durasi yang terbatas, hingga keraguan terhadap sutradara hingga Iqbaal Ramadhan yang berperan sebagai Minke.

Pro dan kontra tersebut sebenarnya adalah hal yang wajar. Sebab ‘Bumi Manusia’ adalah novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru (berikutnya ‘Anak Semua Bangsa’, ‘Jejak Langkah’, ‘Rumah Kaca’).

Keempat novel tersebut merupakan sumbangsih yang begitu besar bagi kesusastraan Indonesia. Ditambah lagi nama besar Pram dan bagaimana kisah tersebut ditulis dari dalam penjara di Pulau Buru membuat banyak penggemarnya ‘posesif’ terhadap karya tersebut.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Tetralogi Pulau Buru dialihwahana, sebelumnya, sempat ada teater bertajuk ‘Bunga Penutup Abad’ yang mengambil cerita gabungan dari ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa’.

Walau demikian, ‘Bumi Manusia’ tetaplah film yang patut untuk ditonton karena terlihat diramu dengan apik dan dibuat dengan serius. Pramoedya Ananta Toer adalah sosok penulis yang memiliki sumbangan besar bagi dunia sastra Indonesia. Sayangnya, pada masa Orde Baru, karya-karyanya sempat dilarang, bahkan dibakar. Namanya pantas masuk ke dalam bahan ajar Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, namun untuk membacanya, pada masa itu, orang harus sembunyi-sembunyi.

Film ‘Bumi Manusia’ berhasil membuat Pramoedya Ananta Toer kembali menjadi sorotan dan diperbincangkan, bahkan oleh generasi muda yang mungkin belum pernah membacanya dan menonton filmnya karena Iqbaal.(*)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini