Laut Merah dan Senandung Nabi Musa

Ada sebuah saran. Jika melakukan perjalanan ke tempat asing hiruplah uap sejarahnya. Apalagi jika waktu kunjungan terlampau singkat. Jika uapnya terserap, pasti ada hal-hal yang bisa diungkap.

Banyak realitas sejarah masa lalu melintasi Mesir. Fakta sejarah ada kalanya berlaku sekali. Tidak mungkin berulang kembali.

Peristiwa menarik antara lain, pada petilasan Nabi Musa. Siapa orangnya pasti gemetar jiwa dan raganya manakala melihat sumur -dulu disebut sumber air atau mata air- yang berada persis di tepi pantai. Tepatnya di pesisir Laut Merah. Meskipun namanya Laut Merah, namun warna airnya tetap biru, lho ya…

Sumur tersebut berada di perbatasan Provinsi Suez dan perbukitan Sinai, kira-kira 160 kilometer dari Kairo, Ibu Kota Mesir. Sumur ini bukti kekuasaan Allah yang bisa disaksikan oleh umat manusia hingga saat ini.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Musa diutus Allah untuk mengingatkan Firaun karena sudah sangat keterlaluan. Firaun, atas pengaruh iblis telah melampaui batas kewajaran menjadi manusia. Raja ini saking berkuasanya mengaku sebagai tuhan.

Untuk melawan “kekuatan” Firaun itu maka dibutuhkan sosok orang kuat pula. Pilihan Allah jatuh kepada pemuda bernama Musa. Pemuda ini tangguh, keras, dan pandai berkelahi. Ia menerima mukjizat berupa tongkat.

Musa ketika bayi berada dalam lingkungan keluarga Firaun sebagai anak pungut. Adakah sesuatu yang lebih tragis dan menyedihkan melihat kenyataan pahit yang dialami Firaun? Firaun tidak menyadari bayi yang dipungut, diasuh, dan dididiknya itu justru memicu runtuhnya kekuasan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Bersama Pak Pram dan Keluarga, Mas Dhito Berkunjung ke Ndalem Pojok Rumah Masa Kecil Presiden Soekarno

Hubungan kekeluargaan bapak-anak ini akhirnya pecah, jika enggan disebut mulai punah. Musa yang sudah punya banyak pengikut diteror, dikejar-kejar hendak dibunuh oleh bapak angkatnya.

Musa diperintah Allah agar eksodus (keluar) dari Mesir. Musa menyiagakan orang-orang Israel -Bani Israil umat Nabi Musa, untuk sebuah perjalanan panjang mengikuti arah matahari terbit menuju tanah suci di Palestina. Persiapan untuk memulai perjalanan panjang berlangsung selama empat hari.

Dalam babak selanjutnya, Nabi Musa mengalahkan Firaun. Sejarah mencatat: Tongkat mukjizat Musa membelah laut. Saat itulah Firaun tenggelam, sementara rombongan Musa selamat.

Duabelas Mata Air

Lepas dari pengejaran Firaun dan bala tentaranya, Nabi Musa dan para pengikutnya terus berjalan. Ketika para pengikutnya kehausan karena berjalan di bawah terik matahari, mereka meminta kepada Musa agar diberikan air. Nabi Musa kemudian diperintah Allah SWT untuk memukulkan tongkatnya pada bebatuan. Seketika itu memancarlah 12 mata air, sesuai jumlah suku yang ikut.  

Duabelas suku tidak perlu berebut mendapatkan air. Mereka mendapatkan bagiannya masing-masing. Sumur tersebut masih ada hingga saat ini. Dari duabelas mata air itu, tersisa tiga yang bertahan dan cuma satu yang mampu mengeluarkan air.

Tubuh saya merasakan kehangatan tepi Laut Merah. Dulu, tentara Mesir mengejar Nabi Musa. Sekarang, tentara Mesir berjaga-jaga sebelum memasuki petilasan mata air Nabi Musa.

Kisah Nabi Musa benar-benar “bersenandung” merdu di segala waktu. Uap sejarah mulai terhirup, mengalir hidup.

(Arifin BH, Pimpinan Redaksi Lentera Today).

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini