Mengapa Mbak Puti Harus Jadi Walikota Surabaya ?

Oleh : Saleh Ismail Mukadar (Mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya)

Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020 adalah Pilwali secara terbuka yang ke-empat bagi warga Surabaya dan PDI Perjuangan. Dalam tiga Pilwali sebelumnya, PDI Perjuangan (calon yang diusung) menang mudah melawan rival-rivalnya. Mudah karena pada Pilwali 2005 PDI Perjuangan sudah memiliki tokoh yang layak dijual yakni Bambang DH, meski hanya dalam dua tahun melanjutkan kepemimpinan Walikota Soenarto Soemoprawiro, mantan Guru matematika itu, telah melakukan banyak langkah strategis yang merubah wajah kota dan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. Sehingga Bambang DH – Arif Afandi mampu meraih suara 51,3 persen padahal Pilwali diikuti oleh empat pasang calon.

Tahun 2010, dengan popularitas dan elektabilitas Bambang DH, ibarat sendal jepit dipasangkan dengan Bambang-pun pasti akan menang. Sayangnya karena Undang Undang tidak mengizinkan karena dianggap telah dua Priode, maka DPP memasangkan Bambang DH dengan Tri Rismaharini, dimana Bambang dipasang hanya sebagai Wakil. Namun posisinya ini justru bertujuan untuk mendulang suara dan buktinya pasangan ini menang mudah ketika itu.

Selama 2010 sampai dengan 2015, Risma hanya meneruskan program yang sudah dikerjakan Bambang-Arif Afandi, terutama dalam memelihara dan merawat taman kota. Meski demikian, elektabilitas perempuan asal Kediri itu bahkan jauh diatas Bambang DH ketika maju pada Pilwali 2015. Risma yang dipasangkan dengan Wisnu Sakti Buana, Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, menang mudah melawan pasangan Rasiyo- Lucy yang didukung Partai Demokrat, PAN dan beberapa Parpol lain.

Pilwali tahun 2020, PDI Perjuangan justru jauh lebih baik dari tiga Pilwali sebelumnya. Tapi entah karena Wisnu tidak diberi peran selama menjabat sebagai Wakil Walikota atau karena faktor mantan ketua DPC Surabaya bukanlah sosok yang kuat sebagaimana pendahulunya yaitu Bambang DH dan Risma, apalagi rival kali ini adalah Machfud Arifin, mantan Kapolda Jatim yang sudah didukung oleh dana yang cukup berikut  sejumlah Partai yang memiliki kinerja bagus, maka PDI Perjuangan harus berhitung ulang sebelum memutuskan siapa yang akan maju dan bisa tetap mempertahankan eksistensi PDI Perjuangan di Ibukota Jatim ini.

Baca Juga :  Dukung Eri Cahyadi, Relawan Gelar Tasyakuran

Di luar, Puti Guntur Soekarno – Wisnu Sakti Buana memiliki popularitas jauh diatas semua tokoh yang saat ini akan bertarung di Pilwali Surabaya. Di internal Partainya, Wisnu juga paling banyak mendapatkan dukungan. Tapi faksi-faksi seperti faksi Bambang Saleh serta faksi Risma adalah faksi yang selama ini tidak akur dengan faksi Wisnu. Sehingga sekalipun PDI Perjuangan saat ini dalam kondisi sangat baik, tapi ketika menyikapi Pilwali kondisi itu sangat mungkin akan jauh berbeda. Padahal Wisnu juga sangat lemah untuk meraih dukungan dari ekternal partainya. Belum lagi berbagai ancaman yang dilontarkan pihak lawan akan men-Tikno-kan calon selain Machfud.

Menurut beberapa lembaga Survey dengan calon yang ada, PDI Perjuangan berpotensi kalah bila internal partainya tidak solid. Sehingga, menurunkan Puti Guntur Soekarno sebagai calon adalah langkah strategis. Justru untuk menyatukan faksi-faksi yang bertikai di dalam PDI Perjuangan, sekaligus untuk memelihara elektabilitas cucu Bung Karno tersebut di Jatim bila tahun 2024 dia harus maju untuk bertarung di Pilgub Jatim. Hal ini bukan tidak mungkin, lantaran hampir pasti Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim saat ini, akan diajak untuk menjadi Cawapres.  Sementara, Jatim kehilangan orang kuat dan hal ini menjadi peluang besar bagi PDI Perjuangan untuk bisa meraih kursi Gubernur sepeninggal Khofifah.

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini