
MALANG (Lenteratoday) -Dua pekan paska tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 nyawa, HIMPSI (Himpunan Psikolog Indonesia) cabang Malang mencatat per 15 Oktober 2022, sudah ada 93 korban yang telah menghubungi untuk meminta bantuan dampingan psikososial.
Isa Wahyudi Wakil Ketua HIMPSI Malang atau yang lebih akrab dengan panggilan Ki Demang menyebutkan, dari 93 koran ada 70 orang diantaranya sudah dalam penanganan tenaga ahli.
"Setelah didata, hingga saat ini sudah ada 70 korban yang menghubungi kami dan sudah dilayani. Masih banyak lah, hampir 23 data yang masuk tadi malam," ujar Isa Wahyudi, saat ditemui di tengah jalannya acara Musyawarah Cabang dan Talkshow HIMPSI Malang 2022, Sabtu (15/10/2022).
Kebanyakan para korban yang menghubungi layanan hotline service berasal dari korban yang mengalami luka berat, misalnya patah tulang, kemudian memar, dan sebagainya. Namun, banyak juga yang berasal dari keluarga korban meninggal dunia.
“Jadi setelah didata, kami lakukan home visit. Ada sekitar 20 psikolog yang kami turunkan untuk menjangkau korban. Ketika home visit, tentu yang kami lakukan adalah memberikan penguatan dan memberikan rasa nyaman kepada korban dan keluarga korban meninggal sebelum dilakukan tahap pemeriksaan lebih lanjut,” imbuhnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, disebutkan Isa bahwa langkah selanjutnya adalah dengan menentukan jenis intervensi yang dapat diterapkan pada korban. Isa kemudian mengungkapkan banyaknya reaksi yang ditunjukkan oleh korban, misalnya seperti mual, histeris, dan blocking.
“Setelah itu kita baru bisa menentukan jenis intervensi apa yang bisa dilakukan pada korban. Ternyata korban menunjukkan reaksi yang bermacam-macam, ada yang histeris, blocking, yang mual dan muntah serta meunjukkan reaksi ketakutan. Hal itu disebabkan karena mereka masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kehilangan keluarga, atau temannya,” paparnya.
Lebih lanjut, Isa mengaku kedepannya HIMPSI yang juga bekerjasama dengan DP3A dan beberapa perguruan tinggi di Malang tersebut berencana untuk menjangkau 10 korban setiap harinya.
“Tujuan kami ini kan untuk membangkitkan kembali semangat hidup korban atau keluarga korban yang ditinggalkan. Kami ingin memulihkan psikisnya, dan tentunya kami menggunakan pendekatan humanis,” ungkapnya.
Sementara itu, disinggung mengenai kemungkinan kerjasama dengan lembaga lain. Isa menuturkan saat ini pihak HIMPSI Malang sedang dalam perencanaan untuk bekerjasama dengan lembaga-lembaga sosial seperti KontraS, LPSK, dan beberapa lembaga hukum untuk memberikan support psikis korban kedepannya.
“Jadi tujuannya para lembaga tersebut menghubungi kami adalah apabila kemudian hari dibutuhkan pernyataan korban sebagai saksi di depan hukum, maka kami harus menyiapkan kondisi mental si korban. Karena tidak mudah untuk bicara dihadapan publik mengemukakan semua yang dialaminya, walaupun dia sudah dinyatakan sembuh psikisnya,” tandasnya(*)
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH