
JAKARTA (Lenteratoday)- Kenaikan kasus baru Covid-19 kembali terjadi di Indonesia. Dalam empat hari terakhir saja rata-rata ada tambahan kasus sebanyak 2.000 tiap harinya. Epidemiolog menyoroti soal vaksinasi yang menurun.
"Kenaikan yang kita alami sangat wajar, selain pertama di tengah kehadiran varian baru XBB di Asia Selatan, dan Tenggara terbukti efektif infeksi baru, dan infeksi ulang," kata epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman dikutip Sabtu (22/10/2022).
"Laju vaksin booster lambat, dan animo masyarakat menurut, dan stok vaksin yang terganggu di banyak tempat. Ini sangat prihatin dan berbahaya," imbuh dia.
Selain ada varian baru, kondisi Indonesia yang akan memasuki musim hujan, juga menjadi salah satu pemicu kenaikan kasus."Kemudian, di tengah pengabaian masyarakat dalam hal protokol kesehatan, kita tahu saat ini Indonesia musim hujan, kalau di kawasan luar, musim dingin jadi ancaman karena banyak orang di ruangan, musim hujan juga demikian," ujarnya.
Dicky menyebut kondisi meningkatnya kasus positif COVID-19 beberapa hari terakhir menjadi wajar, karena pertimbangan faktor-faktor tersebut."Di sisi lain, peningkatan kualitas udara yang sehat, dan ventilasi baik, juga jadi kelemahan. Sehingga, wajar kalau kasus infeksi COVID meningakat," katanya.
Dicky pun mengingatkan soal adanya beberapa penyakit misterius yang muncul karena diduga efek dari COVID. Karena itu, dia meminta agar pemerintah memikirkan soal efek jangka pangjang COVID-19 atau long COVID.
"Kasus-kasus belakangan, hepatitis akut, gagal ginjal akut, semua ada langsung dan tidak langsung dari COVID-19. Ini harus kita pikirkan, harus kita pikirkan lagi long COVID di jangka menengah, panjang," katanya.
Pemerintah melaporkan kasus COVID-19 di Indonesia JUmat (21/10/2022) bertambah 2.227 kasus. Selama empat hari berturut kasus COVID-19 di Indonesia bertambah 2.000 kasus lebih.Dilihat di situs Satgas COVID-19, total ada 6.467.189 kasus di RI. Jumlah kasus tersebut dihimpun sejak Maret 2020.
Muncul Varian BQ.1 dab BQ.1.1
Sementara itu, regulator kesehatan Amerika Serikat (AS) memperkirakan bahwa varian Covid-19 BQ.1 dan BQ.1.1 menyumbang 16,6% terjangkitnya masyarakat yang terserang virus Covid-19.
Itu artinya, hampir dua kali lipat dari minggu lalu, sementara Eropa mencatat varian virus yang baru itu menjadi varian yang dominan dalam sebulan.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa mengatakan varian tersebut kemungkinan akan meningkatkan kasus dalam beberapa minggu hingga bulan mendatang di kawasan Eropa.
Kedua varian tersebut merupakan turunan dari subvarian BA.5 Omicron, yang merupakan bentuk dominan dari virus corona di Amerika Serikat. Regulator di Eropa dan AS baru-baru ini mengizinkan booster vaksin yang menargetkannya.
Belum ada bukti bahwa BQ.1 terkait dengan peningkatan keparahan dibandingkan dengan varian Omicron BA.4 dan BA.5 yang beredar, kata pejabat Eropa, yang jelas masyarakat bisa menghindari melalui perlindungan kekebalan.
"Varian ini (BQ.1 dan BQ.1.1) sangat mungkin dapat menyebabkan gelombang penyakit yang sangat buruk pada musim dingin ini di AS karena sudah mulai terjadi di Eropa dan Inggris," kata Gregory Poland, seorang ahli virologi dan peneliti vaksin di Klinik Mayo.
Di AS, kasus mingguan telah menurun baru-baru ini, menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.Jumlah virus corona yang ditemukan dalam sampel air limbah yang diuji oleh Biobot Analytics pada dasarnya datar di seluruh Amerika Serikat selama enam minggu terakhir. Sampel air limbah sering memprediksi kemungkinan lonjakan Covid-19 sebelum data CDC.
Varian baru dipantau secara ketat oleh regulator dan produsen vaksin jika mereka mulai menghindari perlindungan yang ditawarkan oleh suntikan saat ini.(*)
Reporter: hiski,ist | Editor:widyawati