04 April 2025

Get In Touch

RSSA Jadi Salah Satu Rujukan Pasien GGAPA, Masyarakat Dihimbau Jangan Panik Tapi Tetap Waspada

RSSA Jadi Salah Satu Rujukan Pasien GGAPA, Masyarakat Dihimbau Jangan Panik Tapi Tetap Waspada

MALANG (Lenteratoday) – RSUD Saiful Anwar (RSSA) menjadi salah satu dari 14 RS rujukan yang ditunjuk Kemenkes untuk menangani pasien Gangguan Ginjal Akut Progresif Atypical (GGAPA). Dalam agenda konferensi pers bersama awak media, Plt. Dirut RSSA beserta jajaran dokter spesialis anak dan konsultan ginjal juga mengungkap gejala GGAPA serta menghimbau agar masyarakat tetap awas namun tidak panik.

“Benar, di kami memang ada 1 pasien anak yang saat ini sedang dirawat dalam ICU anak. Keseluruhan kasus yang ada di kami terkait GGAPA merupakan kasus rujukan. Ada yang dari Malang sendiri, ada yang dari Blitar, dan Sidoarjo,” ujar dr. A. Susanto Nugroho, Sp.A (K), Kamis (20/10/2022).

Disebutkan oleh dr. Susanto bahwa persentase pasien terbanyak berasal dari RS Blitar dengan total 44% pasien GGAPA.

Terpisah, dikatakan dr. Krisni S, Sp.A (K) bahwa dalam waktu 3 bulan terakhir memang muncul kasus dengan GGAPA pada anak usia 2 sampai 5 tahun. Namun, dokter ahli nefrologi tersebut menghimbau agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi kasus GGAPA saat ini.

“Dalam 3 bulan ini memang ada beberapa kasus dengan GGAP Atypical (GGAPA). Sebetulnya pasien GGAPA ini kami share kepada masyarakat karena banyaknya perbincangan terhadap kasus ini. Tetapi harapan kami agar masyarakat ini jangan panik, namun tetap waspada,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr. Krisni kemudian menjelaskan terkait gejala yang dialami oleh pasien GGAPA.
“Jadi pasien yang dengan GGAPA ini mayoritas anak yang dibawah umur 5 tahun, yakni 2 sampai 5 tahun. Gejalanya bisa dengan fase prodromal, yaitu seperti demam, diare, batuk pilek, dan muntah. Tapi kebetulan pasien di RSSA ini semuanya dengan gejala demam, muntah, dan bapil serta diare,” paparnya.

GGAPA sendiri sesuai dengan penuturan dr. Krisni, merupakan penyakit gangguan ginjal yakni terjadinya penurunan secara cepat terhadap fungsi ginjal. Hal tersebut ditandai dengan penurunan produksi urin. Namun ketika ditanyakan mengenai penyebab pasti, pihaknya mengaku bahwa hingga saat ini masih melakukan identifikasi terkait apa yang menjadi penyebab GGAPA.

“Jadi urin daripada pasien GGAPA ini pasti menurun bahkan tidak ada sama sekali. Sampai saat ini penyebab pasti sedang diidentifikasi. Kita belum mengetahui penyebab pasti. Karena bisa kemungkinan disebabkan infeksi virus atau bakteri, tetapi juga penyebab yang lain, intinya saat ini masih diidentifikasi,” imbuhnya.

Pasien dapat dikatakan GGAPA apabila menunjukkan gejala kurang dari 3 bulan. Namun, merujuk pada data pasien GGAPA di RSSA, rata-rata awal munculnya gejala sampai tidak keluar urin sama sekali ditunjukka sekitar 4 sampai 7 hari pertama.

Sementara itu, ketika disinggung terkait jumlah pasien GGAPA yang ditangani oleh RSSA, dr. Astrid Kristina Kardani, Sp.A (K), M. Biomed, menyampaikan bahwa 90% pasien menjalani hemodialisis dan sebesar 56% sampai 60% telah dinyatakan survive dan sudah tidak lagi menjalani HD.

“Dari beberapa kasus yang kami tangani memang sekitar 90% menjalani hemodialisis. Dan banyak yang survive serta sudah lepas hemodialisis sekitar 56% sisanya memang ada yang meninggal yakni sebesar 30% dan ada yang masih dirawat,” jelas dr. Astrid.

Dilanjutkan oleh dr. Astrid, melihat persentase pasien yang sembuh hal tersebut mengartikan apabila penanganan GGAPA dilakukan dengan baik maka akan mempercepat penyembuhan pasien.

Lebih lanjut, dr. Astrid kemudian menyampaikan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kasus GGAPA. Pertama yakni dengan menerapkan pola hidup sehat, kemudian tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang terlalu banyak mengandung pengawet.

“Kami di bagian ginjal ini ada 8 hal untuk mencegah penyakit gangguan ginjal. Diantaranya sepertu lifestyle yang bagus, kemudian tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung bahan pengawet,”

Sejalan dengan pernyataan dokter Krisni, dr. Astrid juga sekali lagi menekankan agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik.

“Kami harap masyarakat tetap tenang dan waspada, jangan panik karena kami juga terus akan melakukan investigasi untuk menemukan penyebab yang jelas,” imbuhnya.

Terpisah, Plt. Dirut RSSA, dr. Kohar Hari Santoso menyebutkan meskipun saat ini sedang dilakuka indetifikasi lebih lanjut terkait dengan penyebab GGAPA. Pihaknya menambahkan bahwa Fungsi ginjal dapat rusak yang disebabkan oleh beberapa hal.

“Apabila terjadi gangguan aliran darah ke ginjal bisa terganggu karena dehidrasi, kemudian pendarahan yang membuat syok. Juga bisa karena infeksi dan autoimun. Atau mungkin ada toxin. Atau peradangan yang lain seperti diabet yang terjadi pada pasien dewasa,” jelas dr. Kohar.

“Sampaikan kepada masyarakat apabila ada yang muntah agar tidak sampai dehidrasi tolong untuk minum air putih yang banyak. Konsumsi juga diperhatikan,” tambahnya.

Terakhir, Ketua IDAI Malang Raya yakni Dr. dr. Harjoedi Adji Cahyono, Sp.A (K) menghimbau agar masyarakat untuk sementara dapat menghindari atau bahkan tidak menggunakan obat dalam bentuk cair dan sirup.

“Masyarakat dihimbau untuk menghindari atau sementara tidak menggunakan obat dalam bentuk cair atau sirup sambil menunggu pengumuman dari BPOM dan Kemenkes,” serunya.

Kemudian, lanjut dr. Adji, masyarakat perlu melakukan kontrol terhadap bakita yang secara mendadak mengalami penurinan urin dalam waktu 12 jam.

“Tetap mewaspadai gejala GGAPA yakni berkurang atau tidak adanya buang air kecil secara mendadak. Jadi perlu diketahui apabila ada balita yang mengalami penurunan urin secara mendadak atau dalam waktu 12 jam, maka perlu diwaspadai,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, dr. Adji menghimbau kepada seluruh dokter anak agar segera melaporkan apabila mendapatkan pasien anak dengan gejala yang mengarah pada GGAPA.

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Endang Pergiwati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.