
JAKARTA,LETRA.ID- Rusuh yang terjadi di Papua, Senin (23/9) kemarin memakan korban jiwa dan memicu kerugian materi. Pemerintah melalui Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut korban tewas dalam kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, kemarin, berjumlah 26 orang.
"Jumlah korban 26 orang, itu 22 itu adalah masyarakatPapua pendatang. Sementara warga Papua asli ada empat orang yang meninggaldunia," kata Tito di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (24/9).
Tito mengatakan korban tewas banyak karena luka penganiayaansenjata tajam dan terbakar di dalam rumah atau ruko yang dibakar. Dari total 26korban tewas, masih ada tiga yang belum teridentifikasi. "Sekitar 3 orangbelum terdeteksi nama dan keluarganya apa. Ada profesi tukang ojek, ada jugayang bekerja di restoran," ujar Tito.
Jumlah yang terluka tercatat 66 orang. Tito mengatakanterhadap mereka yang terluka, pemerintah akan memberikan perawatan danmempermudah pemakaman bagi yang meninggal dunia.Kerusuhan terjadi di dua kotadi Papua kemarin yakni Jayapura dan Wamena. Dua insiden itu dipicu persoalanberbeda. Di Jayapura, kerusuhan menewaskan seorang tentara dan tiga wargasipil.
Polisi mengklaim kerusuhan di Wamena dipicu oleh peredaranberita hoaks terkait rasialisme. Sementara di Jayapura kerusuhan berawal daripermintaan mahasiswa eksodus agar pihak Universitas Cenderawasih membentukposko untuk mahasiswa eksodus.
Wiranto menjelaskan ihwal kerusuhan di Wamena. Dia bilangkerusuhan dipicu oleh kabar yang belum jelas dari SMA PGRI. Di sekolah itudisebut Wiranto ada seorang guru yang sedang mengajar, lalu meminta muridnyatidak berkata keras. Namun yang didengar oleh para murid justru perkataan'kera'.
"Mungkin tone di Papua berbeda dengan tempat lain. Nahitu terdengarnya S-nya agak lemah," ujar Tito.
Polisi masih menyelidiki kabar tersebut. Sebab, kata Tito,kabar tersebut disebar oleh kelompok yang berafiliasi dengan Komite Nasional PapuaBarat (KNPB) dan berkembang di masyarakat. Kelompok itu menyebar isu denganmengenakan seragam SMA.
"Padahal ini tidak benar dan belum tentu benar. Isuterlanjur beredar. Kemudian kelompok tadi bergabung, memprovokasi pelajar SMAdi situ sehingga berkumpul," kata Tito. "Ada petugas cepat datangmenenangkan mereka tapi massa sudah terlanjur besar sekitar 2.000 orang lebihlangsung melakukan aksi anarki," ujarnya menambahkan.(dtc)
(jps/wis)