
SURABAYA - Bukan hanya bekas bungkus rokok, plastik kemasan sabun cuci, botol air mineral juga guntingan surat kabar dikumpulkan dan diutak-atik menjadi karya seni rupa di ruang Galeri Surabaya, Balai Pemuda Surabaya, Rabu (16/3/2023). Pasti botol bekas kemasan arak pun ada di sana, sebagai bagian dari benda-benda yang dikonsumsi oleh sang perupa MixartLydyan PurWanto dalam hidup kesehariannya.
“Benda – benda itu pun bukan hanya dikonsumsi saya, tetapi juga oleh banyak orang,” ucap perupa yang akrab disebut Pur Becak ini. Benda – benda itu seolah representasi dari perjuangan atau pertarungan dalam hidup yang bertubi-tubi. “Kita seakan robot atau mesin yang bergerak sebagaimana mestinya melakukan aktivitas secara terus menerus tanpa perintah dari siapapun kecuali diri kita sendiri,” kata Pur lagi.
“Inilah mengapa saya beri judul ‘These Are The Things We Are Fighting For. Kalimat ini pun saya pinjam dari seniman Dada dari Jerman Kurt Schwitters, yang kemudian saya korelasikan dengan makna tersebut,” tutur perupa yang tergabung dalam komunitas Museum of Mind (MOM) ini.
Di sisi lain, Pur juga mengutip ulasan atas karya seniman Street Art, Banksy, yang berjudul 8 am to 5 pm. Karya tersebut mengungkap tentang aktivitas manusia seperti robot yang ‘dipaksa’ bergerak secara teratur, disiplin dan intens, seolah tanpa jeda untuk berpikir sejenak. “Dan kita seakan melakukan aktiivtas omong kosong, yang seakan menjadi mimpi buruk pada diri sendiri dan bagi masa depan anak cucu kita,” tulis Pur dalam katalog karyanya.
Karya seni rupa yang ditampilkan hingga seminggu ke depan ini, dikatakan Pur, sebagai karya dari tahun 2017 hingga 2023 ini. Dalam berkarya, beragam aliran seni rupa hanya dijadikan referensi baginya. Pur menolak untuk terpaku pada satu atau dua aliran.
“Saya bebas dan tidak terpaku pada satu atau dua aliran dalam seni rupa. Bisa jadi juga ada dua atau lebih aliran dalam karya saya, itu adalah penanda saya kembali eksis atau aktif dalam seni rupa, sebagai faktisitas (atau profesi) dalam seni rupa,” ucapnya.
Karya – karya yang ditampilkan kali ini, di mata Dr. Agung Tato Suryanto,M.Sn., sebagai kurator, adalah kolase. Bentuk karya seni seperti ini dipelopori oleh Picaso dan Braque dengan masing - masing bentuk yang berbeda. Bila Picaso disebut penemu kolase, berupa penggabungan berbagai elemen asing pada permukaan gambar, sedangkan Braque penemu kolase kertas papier colle, berupa potongan atau fragmen kertas yang diterapkan pada permukaan lukisan atau drawing.
Kedua bentuk kolase tersebut berangkat dari penolakan atau perlawanan atas perspektif seni rupa pada abad 19, yaitu Kubisme yang menyatukan subjek gambar dengan ruang sekelilingnya dan membawanya dalam bidang datar kanvas, tanpa adanya ilusi perspektif tiga dimensi. Hal ini ditolak Picaso dan Braque dengan menghadirkan persepektif tiga dimensi dalam bentuk kolase.
Dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) ini berharap perupa Pur akan menghadirkan tawaran baru atau perlawanan terhadap sesuatu dalam karya-karya kolase yang ditampilkan. “Namun ini masih pameran tunggal perdana dari Pur, jadi saya akan menunggu karya karya selanjutnya dalam pameran Pur selanjutnya,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Sementara Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Chrisman Hadi yang membuka even pameran ini, mengatakan, dirinya mengapresiasi kebebasan dan kemerdekaan para seniman dalam komunitas MOM, seperti yang dilakukan oleh Pur.
“Para seniman ini menyumbangkan banyak gagasan dan ide untuk kota ini, melalui karya – karyanya. Mereka bebas berkarya dan mencetuskan gagasan. Saya kira Kota Surabaya ini harusnya bersyukur dan berterima kasih dengan para seniman yang memberikan gagasan melalui karya karya seni rupa,” tegas Chrisman Hadi usai mencermati karya – karya yang ditampilkan di ruang galeri.
Reporter: Miranti Nadya|Editor: Arifin BH