
Puisi, sebuah karya sastra yang berkaitan dengan hati. Terangkai dalam bait-bait yang indah. Kata indah memang sangat subyektif. Bagi saya sebuah puisi bisa jadi sangat indah. Namun bagi orang lain puisi boleh jadi sebagai hal biasa-biasa saja.
Puisi bagi saya selalu dapat menghibur hati. Ddalam segala suasana. Kala hati sedang gembira maupun sedang gundah gulana, membaca puisi tetap menyenangkan. Ada empat buku kumpulan puisi yang menjadi koleksi saya.
Dari sederet buku tersebut, saya sering membaca buku kumpulan puisi karya Eka Budianta. Kata-katanya sederhana namun puisi karya wartawan senior majalah Tempo ini sangat menyentuh hati.
Saya suka menulis puisi sejak duduk di bangku SMP tahun 1976. Saat itu tergabung dalam anggota Klub Kapten Klim, sebuah wadah yang menghimpun karya tulis remaja yang disponsori susu Klim. Hingga SMA dan kuliah masih suka menulis puisi. Saat ini hampir setiap hari menulis puisi untuk sahabat saat di SMA Negeri 1 Sidoarjo.
Pengalaman membaca puisi di panggung yang pertama setelah sekian tahun tidak pernah membaca puisi adalah saat mengikuti sekolah sastra di Bengkel Muda Surabaya, Sabtu, 19 Februari 2022. Agak grogi namun Bang Jill Kalaran yang menjadi pengarah saat itu sangat membantu sehingga dapat menyelesaikan puisi Slogan Tanah Air.

Pada acara Soft launching buku Antologi Puisi “Wartakan Kemanusiaan Kutulis Puisi” di Artotel Suite Hotel Surabaya, Rabu (15/3/2023), saya membacakan puisi karya sendiri dengan judul Rumah Gajahku Yang Hilang.
Puisi ini mengalirkan estetika sedemikian jauh tentang alam dan lingkungan hingga bencana akibat ulah manusia yang serakah dalam alih fungsi hutan yang menjadi habitat gajah Sumatera menjadi perkebunan sawit demi mendapatkan gemerincing rupiah. Tapi mereka lupa, hingga akhirnya bencana melanda.
Pada pembacaan puisi ini sebenarnya saya kurang maksimal, karena ruangan yang tidak kedap suara sehingga suara terdengar kurang bagus.
Satu puisi yang saya tulis berjudul Menutup Mata dibawakan dengan apik oleh Staf Ahli Pemkot Surabaya Fauzie Mustaim Yos yang mewakili Eri Cahyadi. Puisi ini menggambarkan seorang pemimpin yang tidak pernah melihat bahwa di dekat kantornya ada wanita tua yang miskin. Sementara dia sendiri sibuk dengan urusannya, bahkan sangat sibuk mengejar jabatan untuk menduduki singgasana yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Pada rilis buku Antologi puisi ketiga di Gedung Pers A Aziz, Jumat (17/3/2023) saya membawakan puisi karya sendiri, judulnya: Antara Corona dan PHK”.

Puisi ini berceritera tentang virus Corona yang datangnya secara mendadak bagai mendung hitam. Menyusul kemudian banyak pekerja yang terkena PHK. Ada seorang pilot berjualan rujak di Surabaya. Pekerja hotel puna buka warung makan di rumahnya. Entah sampai kapan mereka kembali ke masa lalunya.
Pembacaan puisi yang kedua ini saya rasa lebih bagus baik suara maupun intonasinya. Tetapi saya harus mengakui keunggulan pembaca puisi yang notabene mereka adalah pemain teater karena penjiwaannya sangat bagus.
Saya harus mengasah kemampuan lagi untuk terus belajar membaca puisi. Sabar, itulah puisi!
Sabar membuat kita bijak. Lemah lembut membuat kita dikagumi. Setia membuat kita dicintai. Mengasihi membuat kita memahami arti kehidupan!
Penulis: Ida Noershanty Nicholas, wartawan dan dosen Universitas A. Wahab Hasbullah Jombang|Editor: Arifin BH