05 April 2025

Get In Touch

Kenaikan Harga Bahan Pokok Biasa Terjadi Saat Awal Bulan Ramadhan

Kepala Diskopindag Kota Malamg saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Blimbing secara langsung (ARSIP: 24/1/2023)
Kepala Diskopindag Kota Malamg saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Blimbing secara langsung (ARSIP: 24/1/2023)

MALANG (Lenteratoday) -Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) menyebut, adanya kenaikan harga pada komoditas tertentu biasa terjadi pada saat menjelang hingga minggu awal di bulan Ramadhan.

“Seperti biasa, karena kalau mau puasa gitu ada yang naik. Misalnya komoditas seperti beras, itu memang harganya sudah naik, di sekitar Rp 13 ribu per kilonya, itu untuk harga eceran tertinggi. Kalau beras medium Rp 11.500, beras bulog Rp 9.450 per kilogramnya,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pengawasan Diskopindag Kota Malang, Luh Putu Eka Wilantari, saat dikonfirmasi melalui sambungan selular, Rabu (22/3/2023).

Perempuan yang akrab dengan sapaan Luh Putu ini menambahkan, kenaikan harga komoditas seperti beras, tepung, dan gula, biasanya dipicu karena permintaan yang tinggi oleh konsumen, terlebih saat menjelang puasa, banyak masyarakat yang akan berbelanja kebutuhan bahan pokok untuk acara hajatan menyambut bulan Ramadhan.

“Dipicu karena menjelang puasa, banyak yang selametan, megengan ya istilahnya. Karena megengan itu banyak orang yang bikin kue, hajatan, masak-masak, dan sebaginya. Jadi permintaan tepung, gula, beras, itu mulai ada kenaikan. Gula pasir itu sekarang Rp 14 ribuan per kilo,” tambahnya.

Kenaikan harga juga dikatakan Luh Putu, menyentuh komoditas lain seperti telur ayam, yang dibanderol seharga Rp 27.857 per kilogramnya. Menanggapi adanya kenaikan pada bahan pokok tersebut, Luh Putu menyebutkan bahwa menjelang pertengahan puasa, harga diperkirakan akan mulai melandai. Sebab selain banyaknya permintaan saat ini, kenaikan juga menurutnya dipicu keterlambatan barang dari distributor kepada para pedagang di pasaran.

“Kalau stok ada, nah mungkin stok yang ada itu melebihi permintaan. Kemungkinan begitu. Bukan langka, ya. Cuma karena pengiriman yang lambat. Seperti untuk minyak goreng merk Minyakita, ini lagi dikirim. Info dari produsen barangnya belum datang dari distributor. Harga-harga ini kita laporkan ke Kementerian Perdagangan, di kita ada di 6 pasar,” jelasnya.

Lebih lanjut, sebagai upaya antisipasi kenaikan serta menstabilkan harga-harga kebutuhan bahan pokok selama Ramadhan ini. Luh Putu menyampaikan bahwa operasi pasar menjadi salah satu langkah yang diambil dalam rangka mencukupi kebutuhan masyarakat di Kota Malang. Menurutnya, khusus untuk operasi pasar minyak goreng, maka komoditas tersebut masih harus menunggu kedatangan dari pihak distributor.

Sementara untuk operasi pasar per kecamatan. Pihaknya mengaku bahwa saat ini tengah dalam tahap pendataan tenant. Sebab, selain bertujuan untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok di masyarakat dan menjaga stabilitas harga, Diskopindag Kota Malang juga menginginkan agar para pelaku UMKM seperti petani, dan peternak dapat bergabung dalam operasi pasar nantinya.

“Kalau operasi pasar minyak pasti kita menunggu minyaknya datang. Tapi kalau ke kecamatan ini masih kita susun jadwalnya. Kita masih ngumpulin petani, peternak, dan UMKM yang mau ngisi, kita mau gandeng UMKM untuk mengeluarkan produk seperti kue kering, bumbu, ada banyak sih yang mau gabung. Tapi masih kita data,” pungkasnya.

Sempat turun

Salah satu distributor beras dari Kabupaten Malang, Linda mengaku, kenaikan harga beras telah terjadi sekitar 1 bulan lalu, meskipun sempat turun dalam 2 pekan kemarin, namun dikatakannya bahwa saat ini harga beras mulai kembali meroket.

“Naik sudah 1 bulan yang lalu, dua minggu kemarin sempat turun titik (sedikit), tapi sekarang meroket lagi harganya,” seru Linda, saat dikonfirmasi melalui sambungan selular, Rabu (22/3/2023).

Dijelaskannya, kenaikan harga beras dipicu oleh hasil panen gabah yang dinilainya tidak sesuai. Selain itu, harga gabah juga menurutnya semakin naik, dari Rp 4.900 hingga Rp 6.000. Sehingga sambungnya, mau tidak mau penjualan harga beras saat ini telah menembus harga Rp 12 ribu per kilogramnya.

“Gabah di daerahnya kita sendiri ini tidak sesuai hasil panennya, sekarang yang panen (banyak) dari daerah Nganjuk, Jombang, dan lain-lain. Tapi ya gitu, harganya pun gak karuan karuan, biasanya harga 4900 sampai 5100, sekarang tembus di harga 6000 lebih. Dan mau tidak mau, harga jual beras yang biasanya di angka Rp 10 ribu, sekarang tembus di harga 12 ribu,” tutupnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.