
GAZA (Lenteratoday) – Saat Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata mendesak di Gaza pada hari Senin (25/3/2024), kekhawatiran akan kelaparan semakin meningkat. Warga sipil di wilayah tersebut terpaksa mencari tanaman hijau liar yang dikenal sebagai Khobiza karena kekurangan makanan yang semakin parah.
Ini merupakan pengingat lain akan penderitaan yang dialami di daerah Palestina itu selama lima bulan perang yang terjadi setelah serangan pada tanggal 7 Oktober.
Serangan tersebut merupakan respons keras dari Israel yang melancarkan serangkaian serangan udara dan penembakan di Gaza.
Menurut otoritas kesehatan di wilayah tersebut, serangan tersebut telah menyebabkan lebih dari 32.000 warga Palestina tewas. Hal ini menandai konflik terburuk antara Israel dan Hamas, sebuah kelompok Islam yang menguasai wilayah tersebut.
"Sepanjang hidup kami - bahkan selama perang (sebelumnya) - kami belum pernah makan Khobiza," kata seorang wanita Palestina, Maryam Al-Attar kepada jurnalis Reuters.
"Anak-anak perempuan saya berkata kepada saya, 'Kami ingin makan roti, ibu. Hati saya hancur untuk mereka."
"Saya tidak bisa menemukan sepotong roti untuk mereka. Maka saya pergi dan mengumpulkan beberapa Khobiza. Kami telah menemukan Khobiza untuk saat ini, tetapi di waktu yang akan datang, dari mana kami akan mendapatkannya? Khobiza akan habis. Ke mana kami harus berpaling?"
Warga Palestina menderita saat mereka seharusnya menjalankan ibadah puasa Ramadan, bersama dengan jutaan Muslim lain di seluruh dunia yang menikmati buka puasa besar bersama keluarga.
"Kami telah dilanda kelaparan. Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan. Kami ingin sekali makan sayur, ikan, dan daging. Kami berpuasa dengan perut kosong. Kami tidak sanggup lagi berpuasa. Kami merasa pusing karena kelaparan. Tidak ada yang bisa membuat tubuh kami bertahan," kata warga Gaza Umm Mohamed.
Peningkatan kekhawatiran terhadap keberlanjutan dari tanaman Khobiza terjadi pada saat ketidakpastian mengenai pengiriman bantuan kepada warga Gaza. Para mediator berupaya untuk menyusutkan kesenjangan antara Israel dan Hamas dalam hal gencatan senjata dan pembebasan para sandera.
Pengawas kelaparan dunia, yang dikenal sebagai Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), memperingatkan bahwa kelaparan akan segera terjadi di Gaza utara, kemungkinan besar pada bulan Mei. Kelaparan dapat menyebar ke seluruh wilayah pada bulan Juli. Peringatan ini disampaikan pada tanggal 18 Maret.
Pada hari Senin, seorang juru bicara pemerintah Israel menyatakan bahwa Israel akan menghentikan kerja sama dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB di Jalur Gaza (UNRWA). Badan bantuan tersebut sejauh ini merupakan badan bantuan terbesar di Gaza. Israel menuduh badan bantuan tersebut telah memperparah konflik.
Pada bulan Januari, Israel mengeluarkan tuduhan bahwa 12 dari total 13.000 staf Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) di Gaza turut serta dalam serangan yang terjadi pada tanggal 7 Oktober. Akibat tuduhan tersebut, beberapa negara donor menangguhkan pendanaan mereka terhadap UNRWA.
UNRWA telah mengumumkan pemecatan beberapa anggota stafnya dengan alasan untuk melindungi kemampuan badan tersebut dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Selain itu, sebuah penyelidikan internal independen PBB juga telah diluncurkan.
Sumber: Reuters/Penerjemah: Aria (mk)|Editor: Arifin BH