03 April 2025

Get In Touch

WHO Peringatkan Penularan Mpox Bisa Lewat Droplet

Gejala Mpox yang diketahui (BBC News Indonesia)
Gejala Mpox yang diketahui (BBC News Indonesia)

JENEWA (Lenteratoday) -WHO pada Selasa (27/8/2024) memperingatkan percikan liur atau droplet bisa menjadi jalur penularan mpox.

Meski begitu, WHO menerangkan, kemungkinannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kontak fisik.

WHO sebelumnya mengumumkan keadaan darurat global atas mpox pada 14 Agustus, karena khawatir dengan lonjakan kasus jenis Clade 1b di Republik Demokratik Kongo dan penyebarannya ke negara-negara terdekat.

Badan kesehatan PBB itu mengatakan di situsnya bahwa mpox menyebar di antara orang-orang terutama melalui kontak fisik yang dekat dengan seseorang yang mengidap virus tersebut.

"Kontak dekat termasuk kulit-ke-kulit (seperti bersentuhan atau berhubungan seks) dan mulut-ke-mulut, atau kontak mulut-ke-kulit (seperti mencium),” terang WHO.

WHO menambahkan, penularan penyakit ini juga dapat lewat aktivitas bertatap muka dengan seseorang yang mengidap mpox, seperti berbicara atau bernapas berdekatan satu sama lain, yang dapat menghasilkan partikel pernapasan yang menular.

Juru bicara WHO, Margaret Harris pada Selasa menerangkan, apabila seseorang dengan virus cacar monyet berbicara dekat dengan seseorang, bernapas pada mereka, dekat secara fisik, bertatap muka, ada kemungkinan penularan atau penyebaran virus bakal terjadi.

Meski demikian, ia menyebut, droplet adalah sumber kecil penularan mpox. Sebaliknya, Harris menjelaskan, kontak fisik dari kulit ke kulit yang dekat menjadi rute utama penularan penyakit ini.

"Ketika Anda berbicara dengan seseorang, Anda mengeluarkan droplet, tetapi ini bukan bentuk penularan yang sangat besar, dan ini bukan jenis penularan melalui udara atau penularan jarak jauh," ucapnya dalam sebuah pengarahan di Jenewa, sebagaimana dilansir AFP.

Dalam hal ini, Harris menyampaikan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami dinamika penularan sepenuhnya dari mpox.

WHO sendiri telah merekomendasikan penggunaan masker bagi mereka yang terkena mpox, kontak dekatnya, dan petugas kesehatan yang merawat mereka.

Tak akan berakibat pandemi

Para pakar menilai situasinya dianggap berbeda dari ketika dunia menghadapi Covid-19 empat tahun lalu.

Walau begitu, terdapat urgensi untuk merespons Mpox dan melakukan pencegahan, terutama karena kasus-kasus dari cabang baru yang mungkin lebih mudah menular.

Kementerian Kesehatan RI melaporkan, sejak 2002 hingga 2024, sudah ada 88 kasus Mpox yang terindentifikasi.

Mpox adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus cacar monyet dan bisa mengakibatkan berbagai gejala, mulai dari demam, nyeri otot, hingga muncul lesi kemerahan di kulit.

Dalam laporan WHO, penularan Mpox saat ini mulai meningkat dengan adanya varian baru, clade 1b dari virus cacar monyet.

Virus ini mengakibatkan penularan menjadi semakin mudah dengan tingkat kematian yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Walau begitu, WHO menyebutkan bahwa wabah ini bukanlah Covid-19 yang baru karena para ahli sudah cukup banyak mengetahui tentang virusnya dan cara pengendaliannya.

Sejumlah pakar juga menilai tidak perlu dibuat peringatan seperti situasi Covid-19.

"Orang-orang tidak perlu diberi peringatan akan terjadi lagi situasi seperti Covid-19 karena Mpox," kata pemimpin WHO di Eropa, Dr. Marc-Alain Widdowson.

Ia menilai, Covid-19 adalah virus pernapasan, sedangkan Mpox "agak sulit" menular karena memerlukan kontak kulit antarmanusia.

"Butuh kontak cukup lama dalam skala tertentu untuk terjadi penularan, seperti hubungan seks yang saat ini jadi model penularan utama di Eropa," katanya, seperti dikutip Euronews.

Selain itu, penularan lewat kontak kulit itu juga baru bisa terjadi saat seseorang berada di fase akut infeksi Mpox, terutama saat muncul luka sariawan di mulut, sehingga bisa menyebarkan virus lewat droplet dalam kontak erat.

Juru bicara WHO, Tarik Jaservic, juga mengatakan tidak diperlukan penggunaan masker.

"Kami tidak merekomendasikan vaksinasi massal. Kami menyarankan penggunaan vaksin saat terjadi wabah hanya pada kelompok yang paling berisiko," katanya (*)

Sumber: Kompas|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.